Jumat, 02 Juli 2010

I will keep your promise, Olivia

Posted by Arimbi's Story at 00.22
Sebuah mobil alphard berhenti tepat didepan rumah Ray. Sepasang suami istri memasuki rumah minimalis yang cukup besar, diikuti oleh seorang gadis kecil yang cantik, imut, berambut pendek, dan berkacamata.


Ting tong. terdengar suara bel rumah dibunyikan. Wanita cantik berkerudung membuka pintu untuk mereka.

"Hey, Ira. Akhirnya datang juga kamu. Wah ini yang namanya Olivia ya? Cantik sekali. Sudah besar pula."

Wanita itu adalah ibu Ray. Tamu itu adalah Tante Ira, adik dari Ibu Ray, beserta suami dan sang anak, Olivia. Tante Ira memang asli Indonesia, tapi tinggal di Singapur karena sang suami berasal darisana. Mereka sempat tinggal di Indonesia ketika Olivia masih kecil, sehingga bahasa indonesia mereka lancar.

Olivia hanya tersenyum kecil mendengar pujian dari Ibu Ray.

"Iya nih, mba. Makasih sekali lho, mengizinkan Oliv tinggal disini selama liburan sekolah." Jawab Tante Ira.

"Ya ngga apa-apa, aku malah senang kok ada gadis kecil cantik dirumahku. Nanti Oliv juga bisa bermain sama Ray ya, tapi Ray lagi les drum bentar lagi juga pulang. Oh iya aduh sampai lupa, ayo masuk dulu."

"Ngga usah, mba. Setelah ini kami mau langsung ke airport lagi. Mau ke Kalimantan, ada urusan. Yaudah titip Oliv ya. Ini barang-barang Oliv. Nah Oliv, ibu sama ayah langsung pergi lagi ya. Jangan nakal, nak. Nurut sama Tante ya." Suami dari Tante Ira menyodorkan mini koper kepada Ibu Ray. Oliv tersenyum manis menghadapi perkataan ibunya.

"Yaudah kalau itu mau kamu. Hati-hati di jalan, ya."

Kedua orang tua Olivia meninggalkan rumah itu, kembali ke mobil alphard yang diparkir diluar rumah. Sesaat kemudian, mobil itu melesat jauh menjauhi rumah.

"Nah, ayo masuk Oliv. Jangan sungkan, nanti Oliv main sama Kakak Ray ya. Sekarang Oliv istirahat dulu di kamar, yuk." Ibu Ray menggenggam tangan Olivia menuju kamar. Sedangkan mini koper miliknya telah diangkut oleh pembantu rumah tangga keluarga Ray.



*****

"Ibu, Ray pulang. Ada Alvin juga nih." Ray dan Alvin menghampiri Ibu yang berada di ruang keluarga bersama Olivia.

"Ya ampun, Ray. Ini kan sudah jam 9 malam. Darimana aja kamu? Jadwal les kamu kan cuma sampai jam 5 sore."

"Maaf, bu. Tadi Ray ke rumah Alvin dulu. Terus keasyikan main PS disana hehe. Oh iya Alvin malam ini mau nginep, boleh kan bu?"

"Ya boleh dong. Jangan lupa ajak main sepupu kamu, nih. Namanya Olivia. Dia akan tinggal disini selama liburan."

"Heumm? Sepupu? Olivia? Kok aku ngga kenal, bu?" Ray mengangkat satu alisnya.

"Olivia ini anak kedua dari Tante Ira. Kamu sih dari dulu mainnya sama Rio terus, kakaknya Oliv."

"Oh haha iya, aku inget sekarang. Rio nya ngga sekalian tinggal disini juga?"

"Tadi sih, kata Tante Ira pas telepon, Rio ngga mau. Dia mau liburan di Singapur aja."

"Oh yaudah. Ohya Oliv, salam kenal, aku Ray. Dan ini sahabatku Alvin." Ray berjabat tangan dengan Olivia, begitupun juga dengan Alvin.

"Ray, udah yuk langsung ke kamar kamu aja. Oliv ikut, yuk. Kita main sama-sama." Ajak Alvin, diikuti anggukan dari Ray dan senyuman Olivia.

Semenjak perkenalan di hari itu, Ray dan Alvin menjadi makin dekat dengan Olivia. Apalagi hampir setiap hari Alvin berkunjung ke rumah Ray. Disaat Ray les drum, Alvin yang menemani Olivia bermain.

Tapi kegiatan itu tak berlangsung lama. Hanya 1 minggu. Setelah itu Olivia lebih sering sendiri. Ray benar-benar sibuk dengan les drum nya. Berangkat pagi, pulang malam. Alvin? Ia harus menemani Kakaknya yang sedang dirawat di rumah sakit. Lagipula, Ia juga ada jadwal les vokal dan piano. Ibu Ray dan Ayah Ray punya perusahaan masing-masing, hingga sibuk.

*****

"Ini aja? 1 novel little princess?" Tanya seorang penjaga kasir disebuah toko buku.

"Iya, ini uangnya." Olivia menyerahkan uangnya, beberapa saat kemudian Ia sudah membawa satu kantung plastik berisi novel.

Olivia sedang berada di toko buku. Ia merasa bosan dirumah Ray. Ia pergi kesini naik taksi, padahal supir keluarga Ray telah menawarkan diri untuk mengantarnya. Tapi ia tidak mau.

Kini, Olivia menyusuri jalan menuju pintu keluar toko buku. Lalu menunggu di pinggir jalan untuk menyetop taksi.

"Hello, gadis cantik. Sedang menunggu apa?" Tiba-tiba seorang laki-laki bertubuh tinggi menghampiri Olivia.

"Hemm.. Engga kok, ngga nunggu apa-apa." Olivia terlihat sangat ketakutan. Ia pun menyadari bahwa disekitar sana tak ada orang lain selain dirinya dan laki-laki misterius itu.

"Om itu sahabat ayah Ray. Kamu sepupunya kan? Mampir kerumah om yuk."

Olivia semakin panik. Ia tidak percaya dengan laki-laki itu.

"Engga deh, makasih. Aku mau pulang dulu ya." Olivia mempercepat langkahnya menuju tempat yang agak ramai. Tapi naas baginya, laki-laki tadi malah membekapnya dengan sapu tangan yang sudah diberi obat tidur. Kemudian Ia dibawa ke dalam mobil avanza dan dibawa ke suatu tempat yang tidak pernah diketahui siapapun.



*****

Siang kini berganti malam. Jam dinding di rumah Ray telah menunjukkan pukul 22.30. Ray baru saja tiba dirumah. Dilihatnya ibu dan ayah panik di ruang keluarga. Ia pun menghampiri mereka.

"Malam, bu, yah. Ada apa? Kok panik?"

"Ray! Ya ampun, Olivia belum pulang! Kata supir kita, tadi dia ke toko buku sendirian. Soalnya ngga mau dianterin. Tapi sampai jam segini belum pulang." Jelas ibu.

"Apa? Yaudah aku pergi cari Oliv ya!"

"Tapi kamu kan baru sampai, Ray." Ujar ayah.

"Ngga apa-apa, yah. Yaudah, aku pergi dulu. Pak, ayo antar aku!" Ray berteriak pada supir pribadi keluarganya. Ia segera masuk ke mobilnya, lalu dengan kecepatan tinggi mobil itu melaju menuju toko buku.

Ray dan supirnya bertanya-tanya kepada masyarakat sekitar yang ada di area toko tentang Olivia. Tapi hasilnya nihil. Jam sudah menunjukkan pukul 01.15 dini hari. Tapi Ray belum menghentikan pencarian. Padahal lelah sudah nampak di wajahnya.



"Mas, pulang saja. Ini sudah pagi. Besok kita cari lagi ya." Saran supir Ray.

"Hhhh yaudah deh, Pak."

*****

Ray sama sekali tidak bisa tidur. Ia sangat kepikiran dengan Olivia. Orang tuanya sudah menghubungi polisi, tapi belum ada kabar. Kini pukul 07.30, Ray beranjak dari kamar menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. 10 menit kemudian, Ia kembali ke kamar dan melempar diri ke tempat tidur. Saat mengambil handphone, terlihat dilayar 'one missed call' dari nomor yang tak dikenalnya. Juga ada 1 sms dari nomor yang sama. Ray menekan tombol untuk membaca sms itu.

“Saya yang menculik Olivia. Cepat temukan dia, Ray sebelum pukul 18.00 jika kamu terlambat, jangan harap dapat menemukan dia dalam keadaan bernyawa.”

'APAA?! parah, aku harus cari Oliv sekarang!!'

Ray mengirim sms kepada Alvin, menyuruhnya untuk kerumahnya. Agar dapat bersama-sama mencari Olivia.



To : AlvinJS

Vin, Oliv diculik dan dalam keadaan berbahaya. Kerumahku sekarang, kita cari bareng-bareng.



Sambil menunggu kedatangan Alvin, Ray menyempatkan diri untuk makan. Baru ketika Alvin datang, mereka segera berangkat melakukan pencarian Olivia.

"Ray? Istirahat dulu yuk. Aku pegel duduk terus. Udah jam 13.00, nih. Waktunya makan siang juga." Kata Alvin.

"Apa? Istirahat, vin? Oliv dalam bahaya! 5 jam lagi batas waktu kita!"

"Tapi, Ray wajahmu juga udah pucat banget. Lagian kan ada polisi juga."

"Ini karena aku insomnia semalam. Aku belum tidur sama sekali. Tapi ini demi Oliv! Kita ngga boleh hanya mengandalkan polisi. Ohya itu ada makanan punyaku, kamu makan aja ya aku ngga nafsu."

Alvin mengambil kotak makan yang tergeletak disebelah Ray, lalu memakannya.

"Vin, kamu tunggu sini. Aku mau bertanya pada pelayan cafe kecil itu." Ray menunjuk pada sebuah cafe kecil yang sudah usang, sepertinya agak tidak terurus.

"Yakin kamu? Cafe itu menyeramkan deh."

"Udah, biarin aja."

Ray berjalan memasuki cafe itu. Sepi. Hanya beberapa pengunjung yang datang. Ia menghampiri salah seorang pelayan yang sedang membersihkan meja.

"Permisi."

"Iya? Ada yang bisa saya bantu?"

"Ya, aku sedang mencari sepupuku. Namanya Olivia. Ini fotonya. Pernahkah anda melihat dia?" Ray memperlihatkan foto Olivia.

"Ohh.. Iya. Saya pernah melihatnya."

"Benarkah? tolong jelaskan lebih jelas."

"Waktu itu, saya melihat gadis ini di dalam mobil sendirian. Sedangkan pemilik mobil sedang makan di dalam sambil menelepon. Yang saya dengar dari pembicaraan orang itu di telepon, dia akan tinggal sementara di sebuah gudang tua dekat sini hingga pukul 18.00 bersama gadis itu."

"Apa anda kenal dengan orang itu?"

"Ya, dia seorang guru musik. Dia juga punya sebuah tempat les musik. Namanya Oni."

"Apa? Kak Oni? Ya ampun, dia guru les musik ku! Yaudah terima kasih banyak atas infonya. Aku harus pergi."

Ray keluar dari cafe itu, masuk ke mobilnya kembali.

"Vin, aku dapat info! Pak, cari gudang tua terdekat. Oliv ada disana. Aku akan memberitahu polisi."

"Siapa penculik Oliv, Ray? Siapa?" Tanya Alvin.

"Kak Oni, guru les musik ku. Parah banget kan."



Ray kemudian menelepon polisi dan memberitahukan semuanya. Beberapa saat kemudian, polisi sudah mengepung gedung tua itu. Ketika Ray dan Alvin turun dari mobil, melihat Kak Oni sudah tertangkap oleh polisi. Tapi tak ada Olivia bersama polisi-polisi itu. Ray dan Alvin berlari memasuki gudang tua, satu per satu ruangan dimasukinya. Hingga diruangan paling pojok, mereka melihat polisi sedang membebaskan seorang gadis yang disekap. Ya dialah Olivia.



"Oliv!!" Ray berlari menghampirinya, lalu memeluknya.

"Kak Ray.."



BUG! tubuh Ray ambruk. Ray pingsan. Mukanya sangat sangat pucat.



"Kak Raaay!! Bangun, Ka!!"

*****

"Ini.. Di kamarku kan?" Ray terbangun dari pingsannya.

"Ray. Kamu udah sadar? Iya tadi kamu pingsan. Kamu kecapekan, terus kena gejala maag juga." Alvin yang berada disebelah tempat tidur Ray menjelaskan.

"Hemm gitu. Ohya Oliv mana?"

"Oliv.. Dia.. Udah balik ke Singapur. Yaa sekarang paling masih di airport."

"Hah? Apa? Kok... Kok bisa?"

"Orang tuanya tadi menjemput dia. Mereka sangat khawatir, tapi mereka ngga marah kok."

"Tapi.. Tapi.. Aku belum minta maaf sama dia. Aku terlalu sibuk, sampai ngga bisa menemani dia. Aku... Menyesal." Ray tertunduk.

"Tadi Oliv bisikin aku. Dia bilang, dia sayang sama kamu. Dia janji bakal nemuin kamu lagi suatu hari nanti. Dia minta maaf juga, karena dia, kamu jadi drop gini."

"Ngga, aku yang salah. Aku juga sayang sama Oliv. Tapi gara-gara Kak Oni yang membuat aku sibuk latihan drum, aku jadi ngga ada waktu buat Oliv."

"Oh iya ya. Aku dengar motif Kak Oni menculik Oliv bukan karena harta. Ia benar-benar ingin membuatmu jadi drummer profesional. Tapi akhir-akhir ini konsentrasimu pecah. Ketika tau penyebabnya Oliv, ia langsung menculiknya bahkan benar-benar berniat membunuhnya."

"Wew, sadis ya. Walau tujuan awalnya baik."

"Yaa, that's the fact."

"Well, kalau emang Oliv janji kaya gitu.. I will keep it. I will keep your promise, Liv."



-Tamat-

0 comments on "I will keep your promise, Olivia"

Posting Komentar

Jumat, 02 Juli 2010

I will keep your promise, Olivia

Sebuah mobil alphard berhenti tepat didepan rumah Ray. Sepasang suami istri memasuki rumah minimalis yang cukup besar, diikuti oleh seorang gadis kecil yang cantik, imut, berambut pendek, dan berkacamata.


Ting tong. terdengar suara bel rumah dibunyikan. Wanita cantik berkerudung membuka pintu untuk mereka.

"Hey, Ira. Akhirnya datang juga kamu. Wah ini yang namanya Olivia ya? Cantik sekali. Sudah besar pula."

Wanita itu adalah ibu Ray. Tamu itu adalah Tante Ira, adik dari Ibu Ray, beserta suami dan sang anak, Olivia. Tante Ira memang asli Indonesia, tapi tinggal di Singapur karena sang suami berasal darisana. Mereka sempat tinggal di Indonesia ketika Olivia masih kecil, sehingga bahasa indonesia mereka lancar.

Olivia hanya tersenyum kecil mendengar pujian dari Ibu Ray.

"Iya nih, mba. Makasih sekali lho, mengizinkan Oliv tinggal disini selama liburan sekolah." Jawab Tante Ira.

"Ya ngga apa-apa, aku malah senang kok ada gadis kecil cantik dirumahku. Nanti Oliv juga bisa bermain sama Ray ya, tapi Ray lagi les drum bentar lagi juga pulang. Oh iya aduh sampai lupa, ayo masuk dulu."

"Ngga usah, mba. Setelah ini kami mau langsung ke airport lagi. Mau ke Kalimantan, ada urusan. Yaudah titip Oliv ya. Ini barang-barang Oliv. Nah Oliv, ibu sama ayah langsung pergi lagi ya. Jangan nakal, nak. Nurut sama Tante ya." Suami dari Tante Ira menyodorkan mini koper kepada Ibu Ray. Oliv tersenyum manis menghadapi perkataan ibunya.

"Yaudah kalau itu mau kamu. Hati-hati di jalan, ya."

Kedua orang tua Olivia meninggalkan rumah itu, kembali ke mobil alphard yang diparkir diluar rumah. Sesaat kemudian, mobil itu melesat jauh menjauhi rumah.

"Nah, ayo masuk Oliv. Jangan sungkan, nanti Oliv main sama Kakak Ray ya. Sekarang Oliv istirahat dulu di kamar, yuk." Ibu Ray menggenggam tangan Olivia menuju kamar. Sedangkan mini koper miliknya telah diangkut oleh pembantu rumah tangga keluarga Ray.



*****

"Ibu, Ray pulang. Ada Alvin juga nih." Ray dan Alvin menghampiri Ibu yang berada di ruang keluarga bersama Olivia.

"Ya ampun, Ray. Ini kan sudah jam 9 malam. Darimana aja kamu? Jadwal les kamu kan cuma sampai jam 5 sore."

"Maaf, bu. Tadi Ray ke rumah Alvin dulu. Terus keasyikan main PS disana hehe. Oh iya Alvin malam ini mau nginep, boleh kan bu?"

"Ya boleh dong. Jangan lupa ajak main sepupu kamu, nih. Namanya Olivia. Dia akan tinggal disini selama liburan."

"Heumm? Sepupu? Olivia? Kok aku ngga kenal, bu?" Ray mengangkat satu alisnya.

"Olivia ini anak kedua dari Tante Ira. Kamu sih dari dulu mainnya sama Rio terus, kakaknya Oliv."

"Oh haha iya, aku inget sekarang. Rio nya ngga sekalian tinggal disini juga?"

"Tadi sih, kata Tante Ira pas telepon, Rio ngga mau. Dia mau liburan di Singapur aja."

"Oh yaudah. Ohya Oliv, salam kenal, aku Ray. Dan ini sahabatku Alvin." Ray berjabat tangan dengan Olivia, begitupun juga dengan Alvin.

"Ray, udah yuk langsung ke kamar kamu aja. Oliv ikut, yuk. Kita main sama-sama." Ajak Alvin, diikuti anggukan dari Ray dan senyuman Olivia.

Semenjak perkenalan di hari itu, Ray dan Alvin menjadi makin dekat dengan Olivia. Apalagi hampir setiap hari Alvin berkunjung ke rumah Ray. Disaat Ray les drum, Alvin yang menemani Olivia bermain.

Tapi kegiatan itu tak berlangsung lama. Hanya 1 minggu. Setelah itu Olivia lebih sering sendiri. Ray benar-benar sibuk dengan les drum nya. Berangkat pagi, pulang malam. Alvin? Ia harus menemani Kakaknya yang sedang dirawat di rumah sakit. Lagipula, Ia juga ada jadwal les vokal dan piano. Ibu Ray dan Ayah Ray punya perusahaan masing-masing, hingga sibuk.

*****

"Ini aja? 1 novel little princess?" Tanya seorang penjaga kasir disebuah toko buku.

"Iya, ini uangnya." Olivia menyerahkan uangnya, beberapa saat kemudian Ia sudah membawa satu kantung plastik berisi novel.

Olivia sedang berada di toko buku. Ia merasa bosan dirumah Ray. Ia pergi kesini naik taksi, padahal supir keluarga Ray telah menawarkan diri untuk mengantarnya. Tapi ia tidak mau.

Kini, Olivia menyusuri jalan menuju pintu keluar toko buku. Lalu menunggu di pinggir jalan untuk menyetop taksi.

"Hello, gadis cantik. Sedang menunggu apa?" Tiba-tiba seorang laki-laki bertubuh tinggi menghampiri Olivia.

"Hemm.. Engga kok, ngga nunggu apa-apa." Olivia terlihat sangat ketakutan. Ia pun menyadari bahwa disekitar sana tak ada orang lain selain dirinya dan laki-laki misterius itu.

"Om itu sahabat ayah Ray. Kamu sepupunya kan? Mampir kerumah om yuk."

Olivia semakin panik. Ia tidak percaya dengan laki-laki itu.

"Engga deh, makasih. Aku mau pulang dulu ya." Olivia mempercepat langkahnya menuju tempat yang agak ramai. Tapi naas baginya, laki-laki tadi malah membekapnya dengan sapu tangan yang sudah diberi obat tidur. Kemudian Ia dibawa ke dalam mobil avanza dan dibawa ke suatu tempat yang tidak pernah diketahui siapapun.



*****

Siang kini berganti malam. Jam dinding di rumah Ray telah menunjukkan pukul 22.30. Ray baru saja tiba dirumah. Dilihatnya ibu dan ayah panik di ruang keluarga. Ia pun menghampiri mereka.

"Malam, bu, yah. Ada apa? Kok panik?"

"Ray! Ya ampun, Olivia belum pulang! Kata supir kita, tadi dia ke toko buku sendirian. Soalnya ngga mau dianterin. Tapi sampai jam segini belum pulang." Jelas ibu.

"Apa? Yaudah aku pergi cari Oliv ya!"

"Tapi kamu kan baru sampai, Ray." Ujar ayah.

"Ngga apa-apa, yah. Yaudah, aku pergi dulu. Pak, ayo antar aku!" Ray berteriak pada supir pribadi keluarganya. Ia segera masuk ke mobilnya, lalu dengan kecepatan tinggi mobil itu melaju menuju toko buku.

Ray dan supirnya bertanya-tanya kepada masyarakat sekitar yang ada di area toko tentang Olivia. Tapi hasilnya nihil. Jam sudah menunjukkan pukul 01.15 dini hari. Tapi Ray belum menghentikan pencarian. Padahal lelah sudah nampak di wajahnya.



"Mas, pulang saja. Ini sudah pagi. Besok kita cari lagi ya." Saran supir Ray.

"Hhhh yaudah deh, Pak."

*****

Ray sama sekali tidak bisa tidur. Ia sangat kepikiran dengan Olivia. Orang tuanya sudah menghubungi polisi, tapi belum ada kabar. Kini pukul 07.30, Ray beranjak dari kamar menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. 10 menit kemudian, Ia kembali ke kamar dan melempar diri ke tempat tidur. Saat mengambil handphone, terlihat dilayar 'one missed call' dari nomor yang tak dikenalnya. Juga ada 1 sms dari nomor yang sama. Ray menekan tombol untuk membaca sms itu.

“Saya yang menculik Olivia. Cepat temukan dia, Ray sebelum pukul 18.00 jika kamu terlambat, jangan harap dapat menemukan dia dalam keadaan bernyawa.”

'APAA?! parah, aku harus cari Oliv sekarang!!'

Ray mengirim sms kepada Alvin, menyuruhnya untuk kerumahnya. Agar dapat bersama-sama mencari Olivia.



To : AlvinJS

Vin, Oliv diculik dan dalam keadaan berbahaya. Kerumahku sekarang, kita cari bareng-bareng.



Sambil menunggu kedatangan Alvin, Ray menyempatkan diri untuk makan. Baru ketika Alvin datang, mereka segera berangkat melakukan pencarian Olivia.

"Ray? Istirahat dulu yuk. Aku pegel duduk terus. Udah jam 13.00, nih. Waktunya makan siang juga." Kata Alvin.

"Apa? Istirahat, vin? Oliv dalam bahaya! 5 jam lagi batas waktu kita!"

"Tapi, Ray wajahmu juga udah pucat banget. Lagian kan ada polisi juga."

"Ini karena aku insomnia semalam. Aku belum tidur sama sekali. Tapi ini demi Oliv! Kita ngga boleh hanya mengandalkan polisi. Ohya itu ada makanan punyaku, kamu makan aja ya aku ngga nafsu."

Alvin mengambil kotak makan yang tergeletak disebelah Ray, lalu memakannya.

"Vin, kamu tunggu sini. Aku mau bertanya pada pelayan cafe kecil itu." Ray menunjuk pada sebuah cafe kecil yang sudah usang, sepertinya agak tidak terurus.

"Yakin kamu? Cafe itu menyeramkan deh."

"Udah, biarin aja."

Ray berjalan memasuki cafe itu. Sepi. Hanya beberapa pengunjung yang datang. Ia menghampiri salah seorang pelayan yang sedang membersihkan meja.

"Permisi."

"Iya? Ada yang bisa saya bantu?"

"Ya, aku sedang mencari sepupuku. Namanya Olivia. Ini fotonya. Pernahkah anda melihat dia?" Ray memperlihatkan foto Olivia.

"Ohh.. Iya. Saya pernah melihatnya."

"Benarkah? tolong jelaskan lebih jelas."

"Waktu itu, saya melihat gadis ini di dalam mobil sendirian. Sedangkan pemilik mobil sedang makan di dalam sambil menelepon. Yang saya dengar dari pembicaraan orang itu di telepon, dia akan tinggal sementara di sebuah gudang tua dekat sini hingga pukul 18.00 bersama gadis itu."

"Apa anda kenal dengan orang itu?"

"Ya, dia seorang guru musik. Dia juga punya sebuah tempat les musik. Namanya Oni."

"Apa? Kak Oni? Ya ampun, dia guru les musik ku! Yaudah terima kasih banyak atas infonya. Aku harus pergi."

Ray keluar dari cafe itu, masuk ke mobilnya kembali.

"Vin, aku dapat info! Pak, cari gudang tua terdekat. Oliv ada disana. Aku akan memberitahu polisi."

"Siapa penculik Oliv, Ray? Siapa?" Tanya Alvin.

"Kak Oni, guru les musik ku. Parah banget kan."



Ray kemudian menelepon polisi dan memberitahukan semuanya. Beberapa saat kemudian, polisi sudah mengepung gedung tua itu. Ketika Ray dan Alvin turun dari mobil, melihat Kak Oni sudah tertangkap oleh polisi. Tapi tak ada Olivia bersama polisi-polisi itu. Ray dan Alvin berlari memasuki gudang tua, satu per satu ruangan dimasukinya. Hingga diruangan paling pojok, mereka melihat polisi sedang membebaskan seorang gadis yang disekap. Ya dialah Olivia.



"Oliv!!" Ray berlari menghampirinya, lalu memeluknya.

"Kak Ray.."



BUG! tubuh Ray ambruk. Ray pingsan. Mukanya sangat sangat pucat.



"Kak Raaay!! Bangun, Ka!!"

*****

"Ini.. Di kamarku kan?" Ray terbangun dari pingsannya.

"Ray. Kamu udah sadar? Iya tadi kamu pingsan. Kamu kecapekan, terus kena gejala maag juga." Alvin yang berada disebelah tempat tidur Ray menjelaskan.

"Hemm gitu. Ohya Oliv mana?"

"Oliv.. Dia.. Udah balik ke Singapur. Yaa sekarang paling masih di airport."

"Hah? Apa? Kok... Kok bisa?"

"Orang tuanya tadi menjemput dia. Mereka sangat khawatir, tapi mereka ngga marah kok."

"Tapi.. Tapi.. Aku belum minta maaf sama dia. Aku terlalu sibuk, sampai ngga bisa menemani dia. Aku... Menyesal." Ray tertunduk.

"Tadi Oliv bisikin aku. Dia bilang, dia sayang sama kamu. Dia janji bakal nemuin kamu lagi suatu hari nanti. Dia minta maaf juga, karena dia, kamu jadi drop gini."

"Ngga, aku yang salah. Aku juga sayang sama Oliv. Tapi gara-gara Kak Oni yang membuat aku sibuk latihan drum, aku jadi ngga ada waktu buat Oliv."

"Oh iya ya. Aku dengar motif Kak Oni menculik Oliv bukan karena harta. Ia benar-benar ingin membuatmu jadi drummer profesional. Tapi akhir-akhir ini konsentrasimu pecah. Ketika tau penyebabnya Oliv, ia langsung menculiknya bahkan benar-benar berniat membunuhnya."

"Wew, sadis ya. Walau tujuan awalnya baik."

"Yaa, that's the fact."

"Well, kalau emang Oliv janji kaya gitu.. I will keep it. I will keep your promise, Liv."



-Tamat-

0 comments:

Posting Komentar

 

Arimbi's Story Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal