Senin, 20 September 2010

Happy Birthday Alvin!

Posted by Arimbi's Story at 17.14 0 comments
Tanggal berapa sekarang? yup! 20 September 2010! atau tanggal istimewa 20092010. It's Alvin Jonathan Sindunata's birthday. Alvinoszta punya persiapan tersendiri lho dalam menyambut hari ulangtahun Alvin ini.

1. Perencanaan pembuatan trending topic di twitter dengan format #alv13bday
2. Setiap alvinoszta menggunakan twibbon khusus pada avatar mereka baik di twitter maupun facebook. ini contoh twibbonnya.

3. Adanya desain grafis ucapan ulangtahun ke Alvin. Alvinoszta yang buat ini banyak banget, lho. Salah satunya seperti ini desainnya.


4. Menjelang pukul 00.00 tanggal 20 September, alvinoszta pada rela begadang demi ngucapin happy birthday ke Alvin. wew, bayangkan padahal besoknya adalah hari sekolah. tapi mereka rela begadang. ckck memang alvinoszta sejati yaaa.

Cukup meriah kan persiapan penyambutan hari spesial Alvin? yadooong demi Alvin, alvinoszta bakal melakukan yang terbaik.

Saya, perwakilan dari ribuan alvinoszta ingin mengucapkan "HAPPY BIRTHDAY, ALVIN" Semoga panjang umur, sehat selalu, terus menjadi kebanggan alvinoszta. Alvinoszta in my mind, in my heart, in my life :)


Minggu, 01 Agustus 2010

It's our love story | Part 12 (LAST PART)

Posted by Arimbi's Story at 17.49 1 comments
"Ify.." Rio memanggil nama Ify yang terbaring lemah disampingnya.
"Ify.. Kok bisa jadi kaya gini sih.." Rio tertunduk.

"Rio! Gimana Ify?" Sebuah suara membuat Rio membalikan badan, melihat kearah pintu di ruangan itu.
"Masih belum sadar, Vin."
"Kok Ify bisa sampai kaya gini, Yo?"
"Gue juga ngga tau, Zahra. Tadi gue lagi markirin motor, terus tau-tau Ify udah jatuh."
"Sabar, Yo. Gue yakin, Ify ngga apa-apa." Alvin memegang pundak Rio.
"Semoga gitu. Makasih, Vin."


*****

"Sus, kamar Alyssa Saufika Umari nomor berapa ya?"
"Permisi, Alyssa Saufika Umari ada di kamar nomor berapa ya?"

Seorang laki-laki dan seorang perempuan menanyakan pertanyaan yang sama di resepsionis secara berbarengan. Penjaga resepsionis heran. Mereka saling memandang dengan wajah yang terkejut.

"Si.. Sivia?"
"Ray? Kamu kok disini?"
"Aku mau jenguk Ify lah. Kamu juga kan."
"Yaudah sih slow aja."
"Nada ngomongnya biasa aja bisa kali."
"Apasih!"
"Maaf, mas, mba. Tadi nanya kamarnya Alyssa kan? Ia ada di kamar nomor 306." Perkataan penjaga resepsionis melerai debat mereka.
"Oh iya makasih." Sivia pergi dari meja resepsionis, meninggalkan Ray.
"Via, tunggu!" Ray mengejar Sivia, dan kini Ia ada disamping Sivia. Berjalan berdampingan.
"Vi.. Sampai kapan hubungan kita kaya gini? Terima maafku ya, terus kita ngga akan berantem lagi kaya gini."
"Ngga semudah itu, Ray."
"Maksud kamu?"
"Aku udah ilfeel sama kamu. Aku udah kesel sama kamu. Aku butuh waktu, Ray!"
"Tapi aku ngga tahan kaya gini terus, Vi."
"Yaudah kalau kamu ngga tahan, kita putus aja!"
"Apa? Vi, aku ngga mau putus.."
"Kamu nyadar ngga sih, kita udah ngga cocok Ray."
"Tapi kita masih bisa perbaiki kok. Please, Vi."
"Maaf, Ray. Keputusan aku udah tetap."
"Via.. Hhh yaudahlah kalau itu memang yang terbaik buat kita. Makasih, Vi udah jadi penghias hati aku selama 6 bulan terakhir."
"Iya, Ray.."


*****

"Haha dasar si Cakka! Bukannya beli jaket yang warna biru aja biar Shilla senang." Komentar Rio.
"Tau tuh. Mana pas mau beli yang warna item nada ngomongnya ngeselin banget, Yo." Alvin menambahkan.
"Terus mana tuh Cakka sama Shilla?"
"Ngga tau, tadi gue sama Zahra berangkat duluan sih."
"Rio! Alvin! Itu, lihat Ify!" Zahra menunjuk Ify yang masih terbaring di tempat tidur.
"Kenapa, Zah? Ify ngga apa-apa tuh." Ujar Alvin.
"Itu coba lihat! Tangan Ify perlahan bergerak!"
"Iya apa? Bentar gue perhatiin dulu." Rio memandang tangan Ify, dan memang benar tangannya bergerak.
"Ri.. Rio.." Samar-samar terdengar suara Ify yang memanggil nama Rio.
"Iya, Ify. Gue disini." Rio menghampiri Ify. Kini, Ia sedang duduk di sebuah kursi disamping ranjang Ify.

"Ayo, Zahra. Biarkan mereka berdua dulu." Alvin menarik tangan Zahra keluar ruangan Ify.

"Gue dimana, Yo?" Tanya Ify, masih dengan keadaan yang lemas.
"Rumah sakit. Lo tadi kecelakaan, Fy."
"Ohya? Tadi gue habis nyebrangin gadis kecil. Terus pin dia jatuh ditengah jalan raya. Yaudah gue ambilin. Terus habis itu gue ngga sadar apa-apa deh."
"Ya ampun, Ify. Harusnya lo lebih hati-hati."
"Habis, yang gue lihat dari jauh, di pin itu ada foto gadis kecil sama sahabat cowo nya. Gue terlalu antusias ngambilnya. Soalnya gue keinget.. Sama... Sama... Sahabat kecil gue. Gue kangen sama dia." Jelas Ify.
"Ify.."
"Ify.. Lo masih inget kan siapa nama sahabat kecil lo?"
"Mario. Tapi di cincin yang dia kasih ini, dia pakai inisial R untuk namanya, Rio. A untuk Alyssa." Ify menunjukkan cincin yang terpasang di jari tengahnya berinisial 'RA'.
"Dan.. Fy? lo tau kan siapa nama gue?"
"Rio? Ma.. Mario?"
"Iya, Fy. Gue sahabat kecil lo, Mario."
"A.. Apa?!" Butiran bening dari mata Ify mulai mengalir.
"Kenapa?"
"Mario? Kenapa lo baru muncul? Gue udah nunggu bertahun-tahun, Yo.."
"Gue baru sadar kalau lo Alyssa kecil gue, Fy. Maaf."
"Ngga apa-apa, Mario. Yang penting gue udah ketemu sama sahabat kecil gue."
"Panggil Rio aja ya. Biar gue juga panggil lo Ify, bukan Alyssa."
"Iya, Rio."
"Heumm, Fy. For the second time, gue harap lo punya jawaban yang beda dari jawaban yang dulu. Lo... Lo mau ngga jadi pacar gue?"

Hening sejenak. Ify sedang berfikir. Hingga akhirnya mengeluarkan suara untuk mengatakan 3 kata.

"Iya. Gue mau."
"Makasih, Ify."

Sementara itu, diluar ruangan ada Alvin dan Zahra yang sedang duduk di kursi.

"Ihh Alvin. Kamu kok sempet-sempetnya main PSP sih?!"
"Ya sempetlah, Zahra. Toh aku lagi ngga ada kerjaan."
"Alvin! Zahra!" Seseorang memanggil nama mereka.
"Sivia? Dan.. Ray?"
"Ify gimana, Vin, Zah?" Tanya Sivia.
"Udah sadar kok. Itu di dalem. Tapi jangan masuk dulu, Ify lagi ngomong berdua sama Rio. Mending kalian duduk dulu deh." Jelas Alvin.

Sivia mengangguk. Lalu Ia duduk disebelah Zahra. Sedangkan Ray duduk disebelah Alvin dengan tampang yang sedih.

"Lo kenapa, Ray?" Tanya Alvin, tanpa mengalihkan pandangan dari PSPnya.
"Putus."
"Oh."
"....."
"Hah? Putus?! Serius lo?"
"Lo tuh yang ngga serius. Gue bilang putusnya kapan, nyadarnya kapan."
"Sorry, sorry. Ini lagi seru sih mainnya."
"Main apa sih? Pinjem dong." Ray melirik PSP milik Alvin.
"Yee udah lanjutin ceritanya dulu."
"Iya ah. Tadi gue ketemu Via di meja resepsionis. Terus kita barengan menuju kesini. Disepanjang jalan berantem kan, terus ujung-ujungnya Via minta putus."
"Tragis ah."
"Kisah cinta gue? Emang."
"Bukan. Ini mobil gue kebalik karena tabrakan." Alvin menunjukkan PSPnya kepada Ray. Ray langsung cemberut.

"Hello semua. Wah udah rame. Ify gimana?" Cakka yang baru tiba bersama Shilla langsung menghampiri Alvin, Ray, Sivia, dan Zahra yang sedang duduk.
"Darimana lo, Cak? Lama amat baru nyampe jam segini." Tanya Alvin.
"Tuh, Shilla. Tadi ketemu sahabat lamanya di mall. Terus biasa, ngegossip. Lamaaaa banget."
"Yaudah sih, Cak. Lo juga tadi nyari sepatu lamaaaa banget." Balas Shilla. Cakka malu.
"Udah, udah. Hemm, Vin. Masuk aja yuk, mungkin Rio udah selesai ngomong sama Ify." Usul Zahra.

Mereka berenam pun memasuki ruangan Ify. Ify dan Rio masih berbicara dengan akrab.

"Ify! Gimana keadaan lo?" Sivia yang pertama kali bertanya pada Ify.
"Udah baikan, Vi. Walau masih lemas nih."
"Rio, Rio. Daritadi lo akrab banget ngobrolnya sama Ify. Kaya baru jadian aja." Kata Cakka asal.
"Emang baru jadian." Jawab Rio santai.
"Serius?" Alvin kaget.
"Iyalah, Alvin."
"Huaaa selamat deh. Langgeng ya!"
"Amin, makasih, Ray. Lo sendiri gimana sama Sivia?"
"Now, it's over." Ujar Ray singkat.
"Ya ampun, sabar ya Ray. Sivia juga sabar ya." Kata Ify.
"Iya, Ify. Kalau suka ngga harus memiliki, kan?" Ungkap Ray.

Drrrttt! Rio merasakan handphone nya bergetar. Ia mengambilnya dari saku celana dan memperhatikan layar handphonenya. 'Oh ada sms dari Ozy.' Ia segera membacanya.

-From : Ozy-

Ka, gue udah ngungkapin perasaan gue sama Acha. Tapi gue ditolak. Ya, kalau suka ngga harus memiliki kan?

Rio tersenyum membaca isi pesan singkat tersebut. Tanpa membalasnya, Ia menutup pesan itu dan kembali memasukkan handphonenya kedalam saku celana.

"Iya, Ray. Kalau suka ngga harus memiliki."

It's our love story. Ini kisah cinta kami semua. Alvin-Zahra dulu pernah menjalin kisah cinta yang indah dan sempat terputus, kini kembali. Ray-Sivia sempat memiliki kisah cinta tersendiri, walau akhirnya harus berakhir. Cakka-Shilla mempunyai kisah cinta yang berbeda, yaitu sebagai keluarga. Dan juga Rio-Ify, yang akan memulai kisah cintanya mulai hari ini, hingga seterusnya.


TAMAT


Ucapan terima kasih, disampaikan kepada pembaca cerita bersambung ini, khususnya Aprill, Risti Astari, Dian Martina Octavia, Kak Anisa Fitriana, Monique Hoesan. Juga untuk Karima Fadla dan Sylvia Restu Mayestika yang sudah memberikan ide dalam cerita bersambung ini :)

It's our love story merupakan cerita bersambung pertama yang penulis buat. Karena ini part terakhir, komentarnya ditunggu ya. Untuk masukkan di cerita bersambung selanjutnya. See you!

With love,
Arimbi

It's our love story | Part 11

Posted by Arimbi's Story at 17.47 0 comments
“Achaaa, ada temanmu nih.” Teriak Mama Acha dari luar kamar Acha.

Acha yang sedang mendengarkan lagu melalu handphonenya, berjalan keluar kamarnya menuju ruang tamu. Betapa kagetnya Acha ketika tamu itu adalah Ozy. Ia pun segera duduk disebelah Ozy, tanpa berkata apapun.
“Pagi, Cha.” Ozy menyapa Acha terlebih dahulu.
“......” Acha tidak menjawabnya.
“Cha, gue cuma mau minta maaf aja. Jujur, gue ngga tau kalau Ka Alvin bakal balikan sama Ka Zahra.”
“......” Acha masih terdiam. Tatapannya kosong.
“Ya, gue kan ngga bisa prediksi kalau mereka bakal balikan. Jadi waktu itu gue bilang mereka cuma mantanan aja. Tapi emang beneran mantanan, lho.”
“......”
“Gue minta maaf banget ya, Cha. Gue ngga mau berantem sama lo cuma karena hal ini. Maafin ya?” Ozy menyodorkan tangannya ke Acha untuk meminta maaf. Tapi tak direspon oleh Acha.
“Heummm ngga mau yah? Yahh Acha kok gitu sih..” Ozy menurunkan tangannya.
“Acha, emang masih berharap sama Ka Alvin ya?”
“Masih. Kalau dikasih kesempatan.” Kini Acha mulai berbicara, walau masih belum bisa menatap Ozy.
“Kalau sama orang lain, ngga mau ya?”
“Tergantung.”
“Kalau sama Ahmad Fauzy Adriansyah alias Ozy, gimana?”
Acha kaget. Refleks, langsung menatap Ozy dengan pandangan heran. Ozy jadi salting sendiri.
“Terlalu cepet untuk ngaku ya?”
“Hah?”
“Gue suka sama lo, Cha. Lama kelamaan, gue jadi suka sama lo. Tapi ini beneran terpendam. Apalagi pas lo bilang, lo suka sama Ka Alvin. Rasa suka gue makin terpendam, Cha.”

Acha terdiam dan menunduk.

“Yaaa walau lo masih berharap sama Ka Alvin, tapi gue cuma mau bilang kalau gue juga berharap sama lo. Untuk jadi pacar gue pastinya.”

DEG! Kali ini Acha benar-benar kaget. Ozy yang selama ini jadi tempat curhatnya ketika Ia sedang menyukai Ka Alvin malah menyukainya? Acha benar-benar tidak enak dengan perasaan Ozy. Ia pun mulai berbicara lagi.

“Zy...”
“Iyaaa?”
“Gue mau minta maaf. Gue childish banget ya, gara-gara hal kecil aja bisa marah sama lo. Gue minta maaf juga, selama ini nyakitin perasaan lo. Dengan gue curhat tentang rasa suka gue ke Ka Alvin. Dan terakhir gue mau minta maaf kalau.... gue ngga bisa jadi pacar lo. Menjalin persahabatan sama lo itu udah indah banget. Lo ngga harus memiliki gue untuk mengungkapkan rasa suka lo, Okey?” Ujar Acha lembut, sambil menatap Ozy.

Kini Ozy yang terdiam. Tak tau harus mengatakan apa.

“Ozy? Hallo? Lo ngambek ya?”
“Ehh.. engga kok, Cha.”
“Terus?”
“Gue seneng deh, kita bisa sahabatan. Lo bener, walau gue suka sama lo, gue ngga harus memiliki lo. Lagipula sayang ya, kalau mengakhiri persahabatan kita gini.”
“Iya, Zy.” Acha tersenyum manis.

*****

Rio tengah memarkirkan motornya di tempat parkir sebuah toko buku. Ify menunggunya di depan pintu masuk toko buku itu. Pandangan Ify tertuju pada seorang gadis kecil yang kira-kira berumur 6 tahun itu, yang hendak menyeberang. Jalan raya memang tidak terlalu ramai, tapi sepertinya gadis itu tidak punya keberanian untuk menyeberang. Kebetulan, tidak ada jembatan penyeberangan disana. Ify kemudian menghampirinya.

“Hey. Kamu mau menyeberang ya?” Sapa Ify lembut.
“Iya, Ka. Tapi aku ngga berani.”
“Kaka sebrangin ya.”

Gadis itu mengangguk. Ify menggenggam tangan sang gadis, lalu berjalan diatas zebra cross.

“Iyap sampai.”
“Makasih, Ka. Lho?” Gadis itu merasa kehilangan sesuatu. Ia melihat keadaan sekililing dan pandangannya terfokus pada jalan raya yang tadi dilewatinya.
“Kenapa, dek?”
“Pin aku terjatuh, Ka. Itu pin kesayangan aku.” Gadis itu menunjuk benda kecil yang tergeletak ditengah jalan.
“Oh, yaudah kamu tunggu disini, ya. Kaka ambilin.”

Ify kembali menyeberang, menuju tempat terjatuhnya pin itu. Yup, pin gadis kecil itu kini sudah ada di genggamannya. Ify membalikan badannya kearah gadis itu. Ia langsung berjalan menuju gadis itu tapi.......

“Kakaaaa!!!” Teriakan gadis itu membuat orang-orang sekitar menghampiri seorang anak permpuan yang tergeletak berlumuran darah. Korban tabrak lari. Dialah Ify.

Rio sudah memarkirkan motornya. Kini, Ia sedang mencari Ify. Tapi Ia tidak melihat Ify di area toko buku itu. Ia melihat kerumunan orang di jalan raya, tengah menggotong seorang anak ke pinggir jalan. Rio memutuskan untuk melihatnya.

“Permisi, permisi.” Rio mencoba melihat anak yang sedang dikerumuni orang-orang itu. Semakin dekat, semakin jelas pula wajah Ify yang berlumuran darah.

“Ifyyyyy!!!”

*****

“Ku tak akan bisa... Ku tak akan bisa..”

Handphone Alvin kembali berdering. Ia masih tidur juga. Dengan malas, Ia mengangkat telepon itu.

“Hallo?” Ujar Alvin terlebih dahulu.
“Pagi, Alvin. Temenin aku jalan yuk.”
“Hah siapa nih?”
“Lho? Ini Zahra, Alvin.”
“Zahra?”
Alvin kemudian melihat tulisan di layar handphone nya ‘Zahra calling’. Ia yang tadinya masih tiduran, refleks langsung bangun dan duduk diatas tempat tidur.
“Ohh iya Zahra. Kenapa? Maaf aku baru bangun tidur hehe.”
“Dasar, kamu! Temenin ke mall yuk. Pengen shopping deh. Mau ngga?”
“Mau banget. Jam berapa?”
“Aku sih maunya sekarang. Gimana dong?”
“Sekarang? Bisa kok. Yaudah aku mandi, siap-siap dulu deh ya. Nanti langsung kerumah kamu, aku jemput naik motor oke.”
“Oke deh. Makasih yaaa Alvin. Aku tunggu.”

Alvin bangun dan dengan segera melangkah menuju kamar mandi. 10 menit kemudian Ia sudah rapi. Setelah bersiap-siap, Ia menuju ke ruang keluarga, dimana Ayah, Ibu, dan Ka Nova sedang berkumpul.

“Pagi.” Sapa Alvin.
“Heu mentang-mentang hari libur, jam segini baru bangun.” Sindir Ka Nova.
“Biarin ah. Sirik aja.”
“Hush, udah, udah. Kamu mau kemana, Vin? Rapi banget.” Tanya Bunda.
“Temenin Zahra shopping, Bun. Boleh kan?”
“Ya boleh dong. Mumpung hari libur kan.”
“Naik apaan, Vin?” Tanya Ka Nova.
“Motor lo, lah. Pinjem ya, Ka. Thank youuuuu.” Alvin menyambar kunci motor yang ada di meja. Lalu sedikit berlari ke arah luar rumah.
“Ayah, Bunda. Alvin berangkat!” Teriak Alvin dari luar gerbang, Ia sudah standby di motor. Nova? Menggerutu didalam karena motornya digunakan begitu saja.

Alvin memacu motornya secepat mungkin. Benar saja, beberapa menit kemudian, Ia sudah tiba di depan pintu gerbang rumah Zahra. Terlihat Zahra sedang duduk di kursi yang ada di teras sambil membaca novel. Ketika Zahra memandang sesosok laki-laki diatas motor berada didepan rumahnya, Ia segera memasukan novel itu kedalam tas dan menghampiri laki-laki itu. Karena Zahra tau, bahwa itu Alvin.

“Hai, Zahra. Langsung jalan nih?” Ungkap Alvin setelah melepas helmnya.
“Iya, Vin. Ayo.”

Alvin memakai helmnya kembali dan langsung memacu motornya menuju mall terdekat. Ketika sampai, setelah memarkirkan motornya, Ia dan Zahra segera menuju ke sebuah toko baju. Yap, Zahra memang berniat untuk mencari baju.

“Yang warna biru itu lebih bagus deh kayanya.” Komentar Alvin, ketika Zahra mengambil sebuah mini dress berwarna merah.
“Masa? Tapi aku lebih suka sama yang warna merah ini.”
“Yakin? Ya kalau aku sih lebih suka sama yang warna biru itu.”
“Iya, Cak! Yang biru tuh lebih keren! Ngga percaya amat sih!” Suara yang tak asing lagi bagi Alvin dan Zahra membuat mereka mengalihkan pandangan kearah kanan mereka, dimana seorang laki-laki dan perempuan sedang berdebat memilik warna jaket. Mereka Cakka dan Shilla!
“Lho? Cakka? Shilla?” Alvin menatap mereka heran.
“Alvin? Zahra? Cieee berduaan aja nih.” Balas Shilla.
“Hahaha iya nih. Tumben kalian jalan bareng.” Ujar Zahra.
“Tau nih, Zah! Gue dipaksa nemenin Shilla shopping. Terus pas gue naksir jaket, gue maunya warna item. Eh dipaksa lagi sama Shilla suruh beli yang warna biru.” Cerita Cakka.
“Emang bagusan yang biru, Cak! Ngeyel deh!”
“Ihhh, tapi gue maunya yang item, Shillaaaa!”
“Stop! Stop! Aduuh apaan sih, gituan aja diributin!” Alvin berusaha melerai mereka.
“Iya tau nih, berisik tau!” Ungkap Zahra.

Tiba-tiba handphone Alvin berdering, tanda sms masuk.

-From : 9d_Rio-

Vin, Ify kecelakaan! Cepet ke RS Bintang. Kasih tau yang lain.

‘Apaaa? Ify kecelakaan? Gawat!’ Batin Alvin.

“Zahra, yaudah kamu beli aja mini dress nya yang warna merah. Cepetan gih, bayar. Cakka, lo juga cepetan deh bayar mau jaket yang mana!”
“Hah? Emang kenapa, Vin? Kok harus cepet-cepet gitu?” Shilla heran.
“Ify kecelakaan, Shill. Gue barusan di sms Rio. Ayo, habis ini kita ke RS bareng. Gue naik motor sama Zahra, lo sama Cakka terserahlah naik apa yang penting nyampe.”
“Woo tega! Jelas-jelas gue kesini sama supir kok. Yeee.” Protes Cakka.
“Hhhh yaudah Cak, cepetan sana bayar!”
“Iya, iya. Warna item aja aaahhh~” Cakka mengambil jaket warna hitam dan membawanya ke kasir. Zahra juga membawa mini dress merah ke kasir.

Alvin menyempatkan diri untuk sms hal itu kepada Ray dan Sivia.

-To : 9a_Ray-

Ify kecelakaan. Cepet ke RS Bintang.

-To : 9b_Sivia-

Vi, Ify kecelakaan. Cepetan ke RS Bintang, ya.

Cakka dan Zahra sudah membawa tas belanjaan masing-masing. Kemudian, mereka segera menuju parkiran mall. Secepat mungkin mereka beranjak dari mall menuju RS Bintang.

to be continued...

Jumat, 02 Juli 2010

I will keep your promise, Olivia

Posted by Arimbi's Story at 00.22 0 comments
Sebuah mobil alphard berhenti tepat didepan rumah Ray. Sepasang suami istri memasuki rumah minimalis yang cukup besar, diikuti oleh seorang gadis kecil yang cantik, imut, berambut pendek, dan berkacamata.


Ting tong. terdengar suara bel rumah dibunyikan. Wanita cantik berkerudung membuka pintu untuk mereka.

"Hey, Ira. Akhirnya datang juga kamu. Wah ini yang namanya Olivia ya? Cantik sekali. Sudah besar pula."

Wanita itu adalah ibu Ray. Tamu itu adalah Tante Ira, adik dari Ibu Ray, beserta suami dan sang anak, Olivia. Tante Ira memang asli Indonesia, tapi tinggal di Singapur karena sang suami berasal darisana. Mereka sempat tinggal di Indonesia ketika Olivia masih kecil, sehingga bahasa indonesia mereka lancar.

Olivia hanya tersenyum kecil mendengar pujian dari Ibu Ray.

"Iya nih, mba. Makasih sekali lho, mengizinkan Oliv tinggal disini selama liburan sekolah." Jawab Tante Ira.

"Ya ngga apa-apa, aku malah senang kok ada gadis kecil cantik dirumahku. Nanti Oliv juga bisa bermain sama Ray ya, tapi Ray lagi les drum bentar lagi juga pulang. Oh iya aduh sampai lupa, ayo masuk dulu."

"Ngga usah, mba. Setelah ini kami mau langsung ke airport lagi. Mau ke Kalimantan, ada urusan. Yaudah titip Oliv ya. Ini barang-barang Oliv. Nah Oliv, ibu sama ayah langsung pergi lagi ya. Jangan nakal, nak. Nurut sama Tante ya." Suami dari Tante Ira menyodorkan mini koper kepada Ibu Ray. Oliv tersenyum manis menghadapi perkataan ibunya.

"Yaudah kalau itu mau kamu. Hati-hati di jalan, ya."

Kedua orang tua Olivia meninggalkan rumah itu, kembali ke mobil alphard yang diparkir diluar rumah. Sesaat kemudian, mobil itu melesat jauh menjauhi rumah.

"Nah, ayo masuk Oliv. Jangan sungkan, nanti Oliv main sama Kakak Ray ya. Sekarang Oliv istirahat dulu di kamar, yuk." Ibu Ray menggenggam tangan Olivia menuju kamar. Sedangkan mini koper miliknya telah diangkut oleh pembantu rumah tangga keluarga Ray.



*****

"Ibu, Ray pulang. Ada Alvin juga nih." Ray dan Alvin menghampiri Ibu yang berada di ruang keluarga bersama Olivia.

"Ya ampun, Ray. Ini kan sudah jam 9 malam. Darimana aja kamu? Jadwal les kamu kan cuma sampai jam 5 sore."

"Maaf, bu. Tadi Ray ke rumah Alvin dulu. Terus keasyikan main PS disana hehe. Oh iya Alvin malam ini mau nginep, boleh kan bu?"

"Ya boleh dong. Jangan lupa ajak main sepupu kamu, nih. Namanya Olivia. Dia akan tinggal disini selama liburan."

"Heumm? Sepupu? Olivia? Kok aku ngga kenal, bu?" Ray mengangkat satu alisnya.

"Olivia ini anak kedua dari Tante Ira. Kamu sih dari dulu mainnya sama Rio terus, kakaknya Oliv."

"Oh haha iya, aku inget sekarang. Rio nya ngga sekalian tinggal disini juga?"

"Tadi sih, kata Tante Ira pas telepon, Rio ngga mau. Dia mau liburan di Singapur aja."

"Oh yaudah. Ohya Oliv, salam kenal, aku Ray. Dan ini sahabatku Alvin." Ray berjabat tangan dengan Olivia, begitupun juga dengan Alvin.

"Ray, udah yuk langsung ke kamar kamu aja. Oliv ikut, yuk. Kita main sama-sama." Ajak Alvin, diikuti anggukan dari Ray dan senyuman Olivia.

Semenjak perkenalan di hari itu, Ray dan Alvin menjadi makin dekat dengan Olivia. Apalagi hampir setiap hari Alvin berkunjung ke rumah Ray. Disaat Ray les drum, Alvin yang menemani Olivia bermain.

Tapi kegiatan itu tak berlangsung lama. Hanya 1 minggu. Setelah itu Olivia lebih sering sendiri. Ray benar-benar sibuk dengan les drum nya. Berangkat pagi, pulang malam. Alvin? Ia harus menemani Kakaknya yang sedang dirawat di rumah sakit. Lagipula, Ia juga ada jadwal les vokal dan piano. Ibu Ray dan Ayah Ray punya perusahaan masing-masing, hingga sibuk.

*****

"Ini aja? 1 novel little princess?" Tanya seorang penjaga kasir disebuah toko buku.

"Iya, ini uangnya." Olivia menyerahkan uangnya, beberapa saat kemudian Ia sudah membawa satu kantung plastik berisi novel.

Olivia sedang berada di toko buku. Ia merasa bosan dirumah Ray. Ia pergi kesini naik taksi, padahal supir keluarga Ray telah menawarkan diri untuk mengantarnya. Tapi ia tidak mau.

Kini, Olivia menyusuri jalan menuju pintu keluar toko buku. Lalu menunggu di pinggir jalan untuk menyetop taksi.

"Hello, gadis cantik. Sedang menunggu apa?" Tiba-tiba seorang laki-laki bertubuh tinggi menghampiri Olivia.

"Hemm.. Engga kok, ngga nunggu apa-apa." Olivia terlihat sangat ketakutan. Ia pun menyadari bahwa disekitar sana tak ada orang lain selain dirinya dan laki-laki misterius itu.

"Om itu sahabat ayah Ray. Kamu sepupunya kan? Mampir kerumah om yuk."

Olivia semakin panik. Ia tidak percaya dengan laki-laki itu.

"Engga deh, makasih. Aku mau pulang dulu ya." Olivia mempercepat langkahnya menuju tempat yang agak ramai. Tapi naas baginya, laki-laki tadi malah membekapnya dengan sapu tangan yang sudah diberi obat tidur. Kemudian Ia dibawa ke dalam mobil avanza dan dibawa ke suatu tempat yang tidak pernah diketahui siapapun.



*****

Siang kini berganti malam. Jam dinding di rumah Ray telah menunjukkan pukul 22.30. Ray baru saja tiba dirumah. Dilihatnya ibu dan ayah panik di ruang keluarga. Ia pun menghampiri mereka.

"Malam, bu, yah. Ada apa? Kok panik?"

"Ray! Ya ampun, Olivia belum pulang! Kata supir kita, tadi dia ke toko buku sendirian. Soalnya ngga mau dianterin. Tapi sampai jam segini belum pulang." Jelas ibu.

"Apa? Yaudah aku pergi cari Oliv ya!"

"Tapi kamu kan baru sampai, Ray." Ujar ayah.

"Ngga apa-apa, yah. Yaudah, aku pergi dulu. Pak, ayo antar aku!" Ray berteriak pada supir pribadi keluarganya. Ia segera masuk ke mobilnya, lalu dengan kecepatan tinggi mobil itu melaju menuju toko buku.

Ray dan supirnya bertanya-tanya kepada masyarakat sekitar yang ada di area toko tentang Olivia. Tapi hasilnya nihil. Jam sudah menunjukkan pukul 01.15 dini hari. Tapi Ray belum menghentikan pencarian. Padahal lelah sudah nampak di wajahnya.



"Mas, pulang saja. Ini sudah pagi. Besok kita cari lagi ya." Saran supir Ray.

"Hhhh yaudah deh, Pak."

*****

Ray sama sekali tidak bisa tidur. Ia sangat kepikiran dengan Olivia. Orang tuanya sudah menghubungi polisi, tapi belum ada kabar. Kini pukul 07.30, Ray beranjak dari kamar menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. 10 menit kemudian, Ia kembali ke kamar dan melempar diri ke tempat tidur. Saat mengambil handphone, terlihat dilayar 'one missed call' dari nomor yang tak dikenalnya. Juga ada 1 sms dari nomor yang sama. Ray menekan tombol untuk membaca sms itu.

“Saya yang menculik Olivia. Cepat temukan dia, Ray sebelum pukul 18.00 jika kamu terlambat, jangan harap dapat menemukan dia dalam keadaan bernyawa.”

'APAA?! parah, aku harus cari Oliv sekarang!!'

Ray mengirim sms kepada Alvin, menyuruhnya untuk kerumahnya. Agar dapat bersama-sama mencari Olivia.



To : AlvinJS

Vin, Oliv diculik dan dalam keadaan berbahaya. Kerumahku sekarang, kita cari bareng-bareng.



Sambil menunggu kedatangan Alvin, Ray menyempatkan diri untuk makan. Baru ketika Alvin datang, mereka segera berangkat melakukan pencarian Olivia.

"Ray? Istirahat dulu yuk. Aku pegel duduk terus. Udah jam 13.00, nih. Waktunya makan siang juga." Kata Alvin.

"Apa? Istirahat, vin? Oliv dalam bahaya! 5 jam lagi batas waktu kita!"

"Tapi, Ray wajahmu juga udah pucat banget. Lagian kan ada polisi juga."

"Ini karena aku insomnia semalam. Aku belum tidur sama sekali. Tapi ini demi Oliv! Kita ngga boleh hanya mengandalkan polisi. Ohya itu ada makanan punyaku, kamu makan aja ya aku ngga nafsu."

Alvin mengambil kotak makan yang tergeletak disebelah Ray, lalu memakannya.

"Vin, kamu tunggu sini. Aku mau bertanya pada pelayan cafe kecil itu." Ray menunjuk pada sebuah cafe kecil yang sudah usang, sepertinya agak tidak terurus.

"Yakin kamu? Cafe itu menyeramkan deh."

"Udah, biarin aja."

Ray berjalan memasuki cafe itu. Sepi. Hanya beberapa pengunjung yang datang. Ia menghampiri salah seorang pelayan yang sedang membersihkan meja.

"Permisi."

"Iya? Ada yang bisa saya bantu?"

"Ya, aku sedang mencari sepupuku. Namanya Olivia. Ini fotonya. Pernahkah anda melihat dia?" Ray memperlihatkan foto Olivia.

"Ohh.. Iya. Saya pernah melihatnya."

"Benarkah? tolong jelaskan lebih jelas."

"Waktu itu, saya melihat gadis ini di dalam mobil sendirian. Sedangkan pemilik mobil sedang makan di dalam sambil menelepon. Yang saya dengar dari pembicaraan orang itu di telepon, dia akan tinggal sementara di sebuah gudang tua dekat sini hingga pukul 18.00 bersama gadis itu."

"Apa anda kenal dengan orang itu?"

"Ya, dia seorang guru musik. Dia juga punya sebuah tempat les musik. Namanya Oni."

"Apa? Kak Oni? Ya ampun, dia guru les musik ku! Yaudah terima kasih banyak atas infonya. Aku harus pergi."

Ray keluar dari cafe itu, masuk ke mobilnya kembali.

"Vin, aku dapat info! Pak, cari gudang tua terdekat. Oliv ada disana. Aku akan memberitahu polisi."

"Siapa penculik Oliv, Ray? Siapa?" Tanya Alvin.

"Kak Oni, guru les musik ku. Parah banget kan."



Ray kemudian menelepon polisi dan memberitahukan semuanya. Beberapa saat kemudian, polisi sudah mengepung gedung tua itu. Ketika Ray dan Alvin turun dari mobil, melihat Kak Oni sudah tertangkap oleh polisi. Tapi tak ada Olivia bersama polisi-polisi itu. Ray dan Alvin berlari memasuki gudang tua, satu per satu ruangan dimasukinya. Hingga diruangan paling pojok, mereka melihat polisi sedang membebaskan seorang gadis yang disekap. Ya dialah Olivia.



"Oliv!!" Ray berlari menghampirinya, lalu memeluknya.

"Kak Ray.."



BUG! tubuh Ray ambruk. Ray pingsan. Mukanya sangat sangat pucat.



"Kak Raaay!! Bangun, Ka!!"

*****

"Ini.. Di kamarku kan?" Ray terbangun dari pingsannya.

"Ray. Kamu udah sadar? Iya tadi kamu pingsan. Kamu kecapekan, terus kena gejala maag juga." Alvin yang berada disebelah tempat tidur Ray menjelaskan.

"Hemm gitu. Ohya Oliv mana?"

"Oliv.. Dia.. Udah balik ke Singapur. Yaa sekarang paling masih di airport."

"Hah? Apa? Kok... Kok bisa?"

"Orang tuanya tadi menjemput dia. Mereka sangat khawatir, tapi mereka ngga marah kok."

"Tapi.. Tapi.. Aku belum minta maaf sama dia. Aku terlalu sibuk, sampai ngga bisa menemani dia. Aku... Menyesal." Ray tertunduk.

"Tadi Oliv bisikin aku. Dia bilang, dia sayang sama kamu. Dia janji bakal nemuin kamu lagi suatu hari nanti. Dia minta maaf juga, karena dia, kamu jadi drop gini."

"Ngga, aku yang salah. Aku juga sayang sama Oliv. Tapi gara-gara Kak Oni yang membuat aku sibuk latihan drum, aku jadi ngga ada waktu buat Oliv."

"Oh iya ya. Aku dengar motif Kak Oni menculik Oliv bukan karena harta. Ia benar-benar ingin membuatmu jadi drummer profesional. Tapi akhir-akhir ini konsentrasimu pecah. Ketika tau penyebabnya Oliv, ia langsung menculiknya bahkan benar-benar berniat membunuhnya."

"Wew, sadis ya. Walau tujuan awalnya baik."

"Yaa, that's the fact."

"Well, kalau emang Oliv janji kaya gitu.. I will keep it. I will keep your promise, Liv."



-Tamat-

Senin, 14 Juni 2010

It's our love story | Part 10

Posted by Arimbi's Story at 23.03 0 comments
Di kamar Alvin

Alvin yang sedaritadi sangat senang, memutuskan untuk memberitahukan hal ini pada Rio. Ia mencari kontak dengan nama Rio, lalu menekan tombol call.

Di Rumah Rio

Acha sedang berada dirumah Rio. Acha dan Ozy sedang menonton dvd yang baru dibeli Rio. Film ‘Christmas Carol’. Bareng Rio juga. Tiba-tiba handphone Rio berbunyi. ‘Alvin?’ Batinnya. Ia pun beranjak dari sofa, menjauhi ruang keluarga dan segera mengangkatnya telepon dari Alvin.

“Iya Vin?”
“Yo! Lo pasti ngga bakal nyangka deh.”
“Apaan?”
“Gue balikan sama Zahra!”
“Serius? Lo balikan sama Zahra, Vin?” Omongan Rio sangat keras, hingga Acha dan Ozy dapat mendengarnya.
“Iya tadi gue nembak Zahra terus langsung diterima.”
“Wahh bagus deh.”
“Yaudah deh, Yo. Gue cuma mau kasih tau itu aja. Bye.”

“Alvin udah berhasil balikan sama Zahra. Kalau gitu, gue juga harus bisa jadian sama Ify. Besok hari libur kan? Gue aja Ify jalan, ah.” Ujar Ify dalam hati. Rio memutuskan untuk sms Ify.

To : Ify (sahabat kecil)
Fy, besok kan libur. Jalan yuk ^^

Tak lama kemudian, sms balasan dari Ify datang.

From : Ify (sahabat kecil)
Boleh deh, gue lagi ngga ada kerjaan nih.

Rio membalas lagi.

To : Ify (sahabat kecil)
Oke deh, besok pagi ketemuan di Our Cafe ya jam 10.

Balasan dari Ify datang lagi

From : Ify (sahabat kecil)
Sip sip

‘Akhirnya jalan juga gue sama Ify!’ dengan gembira, Rio kembali ke ruang keluarga, tempat Acha dan Ozy yang masih asik menonton film. Tampak wajah Acha yang kesal karena mendengar kabar bahwa Alvin balikan dengan Zahra. Ozy masih tidak percaya dengan yang tadi dibilang Rio, dia langsung bertanya.

“Ka. Ka Alvin balikan sama Ka Zahra?” Tanya Ozy.
“Yoi. Asik banget ya.” Telinga Acha terasa panas mendengar itu. Ia putuskan untuk segera pulang. Ia kesal dengan Ozy, karena Ozy bilang Ka Alvin dan Ka Zahra cuma mantanan, tapi sekarang malah balikan.
“Ka Rio, Ozy, Acha pulang ya. Capek.” Acha menuju pintu depan rumah. Rio heran. Ozy menghampiri Acha.
“Kenapa, Cha? Lo sakit?”
“Jangan pura-pura ngga tau deh, Zy!!” Bentak Acha.
“Gue emang ngga tau.”
“Lo bilang Ka Alvin cuma mantanan sama Ka Zahra, kok sekarang bisa balikan?”
“Yahh gue ngga tau, Cha.”
“Lo udah bohongin gue, Zy. Gue ngga mau main sama lo lagi.” Kini Acha benar-benar pulang. Ozy tak mampu menahannya. Ia memutuskan untuk ke kamarnya, melewati Rio yang masih menonton film.
“Acha kenapa, Zy?” Tanya Rio.
“Ini semua gara-gara lo, Ka!! Ngapain lo teriak-teriak ngasih tau Ka Alvin balikan sama Ka Zahra? Udah tau Acha suka sama Ka Alvin! Ngga punya perasaan lo, Ka! Sekarang Acha marah banget sama gue, dia bilang gue pembohong. Puas lo!” Ozy berlari menuju ke kamarnya. Mengunci pintu, sendirian didalam heningnya suasana.
“Zy.. maafin gue.” Rio berteriak dari luar kamar Ozy.
“Udah telat, Ka, permintaan maaf lo!”

Rio merasa sangat bersalah. Tapi tadi Ia benar-benar lupa kalau ada Acha, yang suka dengan Alvin disana. Rio pergi ke ruang keluarga, mematikan dvd player, dan merenungkan perkataan Ozy padanya.

Keesokan harinya

Rio sudah bersiap-siap untuk jalan bersama Ify. Memang, masih ada 1 jam lagi dari waktu yang dijanjikan. Tapi Ia tak mau terlambat dihari penting bagi kelangsungan kisah cintanya itu.

‘Oke, gue udah keren. Baju oke, muka? Pastilah oke banget.’ Rio sedang bercermin di dalam kamarnya.
Rio melihat jam tangan yang melingkar ditangannya, dan masih menunjukkan pukul 09.03.

‘Gue kepagian nih. Oh iya! Gue kan belum ngasih tau Alvin. Telepon, ah!’

“Ku tak akan bisa….” Dering tanda telepon masuk di handphone Alvin berbunyi. Kebetulan, Alvin masih tidur. Dengan mata yang masih tertutup, dan jiwa yang masih melayang, Alvin meraba-raba letak handphone nya yang tergeletak di tempat tidur. Lalu mengangkatnya tanpa melihat nama si penelepon.

“Hallo.” Kata Alvin, masih dengan mata tertutup.
“Hey, Vin! Denger deh, gue punya kabar yang bagus!”
“Hah, kabar apa, Ray? Lo udah baikan sama Sivia? Wah bagus deh kalau gitu.”
“Ray? Sivia? Apaan sih, Vin! Gue Rio! Sadar dong, aduuuhh.”
“Rio? Rio siapa? Gue ngga pernah punya temen yang namanya Rio ah.”
“Vin? Mario Stevano yang ganteng itu, lho.”
“Mario? Ganteng? Yailah masih gantengan Alvin Jonathan, lah!”
“ALVIIIINNNNNN!!!” Rio berteriak di telepon. Seketika itu Alvin sadar.
“Hah, Rio? Ngapain sih lo telepon gue main teriak-teriak aja!”
“Sabar, Yo. Sabar…”
“Apaan sih, sabar-sabar?”
“Heh, lo ya! Tadi lo bilang gue Ray! Terus malah numpang narsis! Bad mood duluan deh gue belom cerita ke lo.”
“Sorry, Yo. Gue tadi masih tidur. Hehe Rio sayaaaangg maafin ya.”
“Huhu Alvin ngeselin. Rio males sama Alvin ah!”
“Yah, sayang kok ngambek gitu sih?”
“Kamu duluan yang bikin aku ngambek, Yang.”
“Yaudah maafin yaaa.”
“Hhhh oke deh Alvin sayang. Udah ah, gue masih normal, Vin!”
“Iya ilah, gue juga udah punya cewe kali, mana demen sama lo. Bercanda doang. Terus mau cerita apaan?”
“Oke, oke. Nih ya, Vin. Gue berhasil ngajak Ify jalan!”
“Serius? Wahhh selamat yaaa, Yo.”
“Makasih, Vin. Tapi lo ngga cemburu kan?”
“Cemburu? Gue kan udah punya Zahra. Ngapain cemburu.”
“Oh gitu yaudah deh, Vin. Gitu aja kok.”
“Yaudah gih, gue mau tidur lagi. Byeee.”

Alvin memutus teleponnya terlebih dahulu. Dan langsung terlelap lagi. Sedangkan Rio? Lagi marah-marah, karena teleponnya langsung diputus sama Alvin.

‘Jam berapa nih? Ya ampun udah jam 09.30! berangkat deh!’

Rio keluar dari kamarnya, menuruni tangga rumahnya menuju ke lantai dasar. Kedua orang tua Rio sedang pergi, jadi rumah sangat sepi. Ozy masih mengurung diri di dalam kamar. Rio ke kamar Ozy dahulu, yang terletak di lantai dasar. Rio pun mengetuk pintu kamar Ozy, tapi tak ada jawaban.

“Ozy.. Jangan di kamar terus dong.” Teriak Rio yang berada di depan pintu kamar Ozy.
“Zy.. Jangan marah lagi, ya. Maafin gue.”
“Zy? Gue boleh usul ngga? Lo mending ke rumah Acha deh. Lo jelasin semuanya. Tentang perasaan lo ke dia. Sampein permintaan maaf gue juga ya, Zy.”

Masih tidak ada jawaban. Rio pikir, Ozy masih tidur. Padahal Ozy sudah bangun, tapi sedang tiduran di tempat tidur.

“Gue berangkat, Zy.” Rio keluar dari rumahnya dengan membawa kunci motor di tangannya.

Terdengar suara mesin motor dinyalakan. Samar-samar, suara itu menghilang dan terus menghilang hingga tak terdengar lagi. Sang pemilik motor kini telah pergi menuju ke tempat janjian. Sedangkan Ozy masih tiduran dikamarnya. Memikirkan Acha yang kini marah padanya, perasaannya pada Acha yang makin terpendam, dan Rio, kakaknya yang merasa bersalah.

‘Bener kata Ka Rio, gue harus jelasin semuanya ke Acha!’

Ozy lalu memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi. Bersiap-siap menuju rumah Acha.


*****

‘Ify.. mana ya? Nah itu dia!’ Rio menghampiri Ify yang sedang duduk, sedaritadi hanya melirik kearah jam ditangannya.
“Hey, Fy. Maaf ya gue telat.” Rio duduk dihadapan Ify.
“Ngga, kok. Gue juga baru aja dateng.”
“Oh hehe yaudah pesen makanan dulu deh. Biar enak ngobrolnya. Habis ini, kita jalan ke tempat lain ya.”
“Kemana?”
“Lo maunya kemana?” Rio balik bertanya.
“Sebenenya sih gue mau cari novel, Yo. Hehe.”
“Boleehhh, sip habis ini ke toko buku ya.”

It's our love story | Part 9

Posted by Arimbi's Story at 22.59 0 comments
Alvin melangkah perlahan memasuki rumahnya, menghampiri sosok yang tidak dikenalnya yang sedang bersama Ibunya dan Ka Nova. Ka Nova menyadari kehadiran Alvin dan segera memandang ke arah Alvin.

“Alvin? Udah pulang?” Tanya Ka Nova lembut.
“Hemm udah, Ka.” Alvin masih terheran dengan sesosok yang sedang duduk di sofa ruang keluarga, diantara Ibunya dan Ka Nova. Tiba-tiba sesosok itu berbalik dan menatap Alvin. Betapa terkejutnya bahwa itu adalah Ayah Alvin.
“Alvin! Sini gabung!” Ajak Ayah Alvin. Alvin bengong.
“Vin, sini nak gabung.” Kali ini Ibu Alvin juga mengajaknya.
“Oh iya iya.” Alvin menghampiri mereka dan duduk disebelah Ka Nova.
“Vin, nanti malem Ayah mau ajak kita makan malem bareng, lho. Udah lama kan kita ngga kaya gini.” Ujar Ka Nova. Alvin masih bingung.
“Hah? Apaan sih, Ka. Gue ngga ngerti. Kenapa tau-tau keadaan keluarga kita jadi kaya gini?”
“Hahaha Alvin, Alvin. Ayah udah berusaha mengubah sikap Ayah, tapi kamu malah ngomong gitu. Kamu mau ayah yang dulu?”
“Engga! Ampuuuunnnn.” Alvin memohon manja.
“Ayah sudah sadar, Ayah punya keluarga yang sangat berarti, yang ngga boleh disia-siakan. Ayah ingin jadi bagian keluarga ini kaya dulu lagi. Ayah janji bakal jadi Ayah yang paling baik di dunia. Maafin Ayah ya, Vin. Ayah paling banyak salah sama kamu.” Ayah Alvin menunduk. Alvin tersentuh, berdiri dari tempat duduknya dan berlutut didepan Ayahnya.
“Ngga apa-apa, yah. Ngga perlu minta maaf. Kejadian yang sudah lewat, biarin aja. Yang penting kita mulai dari awal lagi, ya.” Alvin tersenyum.
“Makasih Alvin.” Ayah Alvin memeluk Alvin erat. Hangat. Sudah lama Alvin mendambakan sebuah pelukan tulus dari sang ayah tersayang. Ka Nova dan Ibu hanya memandang dengan tatapan terharu.
“Yah?” Alvin melepas pelukannya.
“Iya, Alvin?”
“Makan malam barengnya nanti ya?”
“Iya. Ada masalah?”
“Hmmm Alvin boleh ajak temen Alvin ngga? Besok kan hari libur.”
“Tentu. Emang kamu mau ajak siapa?”
“Namanya Zahra. Anaknya lembut, sopan, cantik lagi.” Ungkap Alvin malu.
“Boleh, boleh. Jam 7 ya.”
“Oke, makasih Ayaaahhh. Alvin mau telepon Zahra dulu. ” Alvin melangkah menjauhi ruang keluarga, menuju teras rumahnya. Mencari-cari nama Zahra dalam kontak handphone nya dan langsung menekan tombol ‘calling’.

“Hallo, Vin.” Terdengar suara Zahra.
“Hey, Zahra.”
“Tumben nih telepon. Kenapa?”
“Nanti malem lo ada acara ngga?”
“Hmmm engga tuh.”
“Bagus kalo gitu!”
“Apanya yang bagus?”
“Gini, ayah gue ngajakin makan malem bareng keluarga. Dan gue mau lo dateng.”
“Gue? Itukan makan malem lo sama keluarga lo, Vin. Ngapain ajak-ajak gue?”
“Kata Ayah gue boleh bawa temen kok. Yayaya please, Zah.”
“Yaudah deh. Gue juga bosen dirumah.”
“Yeay makasih Zahra. Gue jemput jam 18.50 yaa. Bye.”
“Bye, Vin.”

‘Asik Zahra mau dateng!’ ujar Alvin dalam hati. ‘Wait, kenapa gue berinisiatif buat undang Zahra? Kenapa gue ngga undang yang lain aja? Aduhh gue kok jadi aneh gini. Apa gue suka sama Zahra? Engga, engga Zahra kan cuma masa lalu gue.’ Alvin garuk-garuk kepala. Ia heran dengan perasaannya sendiri. Ia pun memutuskan untuk kembali ke ruang keluarga.

Di rumah Sivia

Seusai sekolah, Sivia selalu murung. Tidak ada senyum dibibirnya. Bahkan, jika diperhatikan, butiran air mata Sivia jatuh sedikit demi sedikit. Ya, Ray lah jawabannya. Sivia memang kesal dengan Ray, tapi itu membuatnya sedih. Masih ada rasa sayang dihatinya. Tapi 80% keyakinannya menginginkan mereka untuk putus. ‘Ya, gue harus putus. Gue ngga mau terus-terusan kaya gini.’ Batin Sivia. Sivia segera mengambil handphone nya yang tergeletak di meja dan mulai mengetik pesan singkat untuk Ray.

To : ♥Ray
Ray, aku mau kita putus.

Ray yang sedang ketawa-tawa baca komik sambil tiduran di tempat tidur, kaget seketika. Nafasnya terasa sesak, pikirannya kacau. Ia memutuskan untuk menelepon Sivia. Awalnya Sivia ngga mau angkat, tapi dia putuskan untuk mengangkatnya.

“Hallo, Vi.” Ray mulai berbicara.
“Hemm..”
“Itu sms kamu yang tadi bercanda kan?”
“Seriuslah, ngapain aku bercanda.”
“Tapi ending nya ngga bisa kaya gini dong, Vi. Ini semua cuma masalah kecil dan masih bisa kita bicarain baik-baik.”
“Tapi aku udah ngga sanggup, Ray. Aku udah terlanjur kesel. Kalau kita putus, kamu bisa kan jadian sama Dea itu.”
“Apaan sih, Vi. Udah aku bilang Dea cuma temen aku. Dan aku sukanya sama kamu!”
“Kamu terlalu lemah! Kalau emang kaya gitu, harusnya kamu samperin Dea, suruh dia telepon aku minta maaf atas semua ini. Tapi kenyataannya apa? Kamu ngga berusaha membuat Dea minta maaf kan? Cowo macam apa kaya gitu.”
“Maaf, Vi. Maaf. Aku belum sempet. Lagipula ini terlalu cepat kalau kita putus sekarang.”
“Kamu ngga ngertiin keadaan aku sekarang Ray! Hiks..” Isakan Sivia mulai terdengar.
“Via? Jangan nangis dong. Kita omongin pelan-pelan ya dari awal. Aku masih sayang sama kamu, aku ngga mau lepasin kamu, Vi.”
“Ngga! Kamu munafik!”
“Terserah kamu mau ngatain aku apa, Vi. Kasih aku kesempatan ya buat nyari jalan dari masalah ini. Please, Vi. Tarik kata-kata putus tadi.”
“Whatever. Aku ngga peduli. Walau kita belum putus, tapi aku marah banget sama kamu!!” Sivia memutus sambungan telepon nya. Ray menjadi sangat lemas. Bingung. Padahal hanya masalah seperti itu saja, Sivia sampai marah kaya gitu.

*****

Zahra sedang bingung memilih pakaian yang akan Ia kenakan untuk makan malam bersama keluarga Alvin di kamarnya. Alvin menjemput dia setengah jam lagi tapi Ia belum bersiap. ‘Hemm udahlah ngga usah formal-formal. Kemeja sama jeans cukup kan?’ Ya, itulah keputusan Zahra. Mengenakan kemeja berwarna ungu dengan jeans hitam. Rambutnya dibiarkan terurai. Zahra sudah siap sekarang. ‘Waduh udah jam segini. Cepet-cepet turun deh.’ Zahra melangkah keluar kamarnya, menuruni tangga dan menuju ruang keluarga. Menunggu Alvin. Disana ada mamanya yang sedang membaca majalah.
“Zahra? Kamu rapi sekali. Mau pergi?”
“Iya, Ma. Alvin ngajakin aku makan malam bareng keluarganya. Boleh kan ya, Ma?”
“Alvin? Mama ngga tau ah kamu punya teman yang namanya Alvin.” Alvin dan Zahra memang pernah pacaran dulu, tapi backstreet. Kedua orang tua mereka tidak ada yang mengetahui itu. Dan itupun hanya bertahan 7 bulan.
“Alvin anak kelas 9b, Ma. Nanti mama ketemu aja, dia mau jemput aku. Oh itu kayanya dia udah dateng.”

Terdengan suara motor berhenti tepat didepan rumah Zahra. Zahra dan Mama nya segera menghampiri. Alvin melepas helm nya dan turun dari motor. Masuk kerumah Zahra yang pintu gerbangnya sudah dibuka kan oleh satpam. Alvin tersenyum melihat Zahra yang berpenampilan sangat cantik malam ini. Saai itulah, Ia merasa jantungnya berdetak kencang, apalagi ketika Zahra membalas senyumannya.

“Malam, Tante.” Alvin menyalami Mamanya Zahra.
“Malam. Kamu.... yang namanya Alvin?”
“Benar, Tante. Alvin mau ajak Zahra ikut makan malam dirumah Alvin. Boleh ngga, Tan?”
“Tentu. Zahra juga udah siap kok.”
“Yaudah kami berangkat ya, Tan.”
“Zahra berangkat, Ma.”
“Hati-hati. Bawa motornya jangan ngebut, Vin.”
“Siap, Tante.” Alvin tersenyum ramah.

Alvin dan Zahra menuju motor Alvin (motor Ka Nova, sih) yang diparkirkan didepan gerbang yang terbuka. Mereka menaiki motor itu dan langsung melesat kerumah Alvin. 10 menit kemudian mereka sudah sampai dirumah Alvin. Setelah meletakkan helm dan memarkirkan motor, Alvin dan Zahra masuk kedalam rumah. Ayah dan Ibu Alvin serta Ka Nova sudah menanti mereka.

“Permisi. Selamat malam.” Ujar Zahra sopan.
“Malam Zahra.” Ibu Alvin tersenyum pada Zahra.
“Zah, duduk disini ya.” Alvin menarik kursi untuk Zahra. Kemudian Alvin duduk disebelah Zahra.
“Baru kali ini lo bawa cewe kesini, Vin, Vin.” Goda Ka Nova.
“Apa sih, Ka. Diem deh.”
“Ihh Alvin jadi lembut. Haha cie jaim.”
“Ka, please dong. Ohya Zahra ini kaka gue. Ka Nova.”
“Hahaha oke oke, Vin. Hello Zahra.”
“Hello Ka Nova.” Sapa Zahra balik.

Mereka makan malam sambil berbincang, sesekali tertawa. Malam yang menyenangkan bagi Zahra. Pengalaman, makan bareng keluarga Alvin. Seusai makan, Zahra bersiap-siap untuk pulang.

“Om, Tante, Ka Nova, Alvin. Makasih buat malam ini. Kalau gitu Zahra pamit pulang, ya.”
“Makasih juga, Zahra udah mau dateng. Suasananya jadi makin menyenangkan.” Ujar Ayah Alvin.
“Yasudah, Zahra permisi ya.”
“Zahra, tunggu. Biar gue anter pulang.” Tawar Alvin.
“Ngga usah, Vin makasih. Udah malem, masa malah ngerepotin lo.”
“Justru karena udah malem, gue takut lo kenapa-kenapa. Udah, Yuk.” Alvin mengenggam tangan Zahra menuju motornya. Zahra merasa gugup.

Sesampainya dirumah Zahra

“Thanks for today, Vin. Mampir dulu, yuk.”
“Sama-sama, Zahra. Engga deh, langsung balik aja ya gue.”
“Please, Vin. Kita ngobrol-ngobrol dulu.” Zahra memohon.
“Hemm yaudah deh.” Alvin turun dari motor dan mengikuti Zahra yang duduk di kursi di teras rumahnya.
“Zahra. Boleh jujur ngga?” Alvin memulai pembicaraan.
“Boleh, kok. Apa?”
“Lo cantik banget malam ini.” Ujar Alvin malu.
“Ahh Alvin apaan sih, biasa aja tau.” Zahra tak kalah malunya.
“Beneran deh, Lo bisa buat cowo-cowo yang ngeliat lo suka sama lo, tau.”
“Ngga gitu juga kali, Vin.”
“Yee beneran tau.”
“Contohnya siapa?”
“Gue.”
“Lo?”
“Hah? Lho tadi gue ngomong apa sih, sorry sorry.” Alvin kelabakan.
“Tadi lo ngomong kalau lo salah satu dari cowo-cowo yang suka sama gue. Iya ngga? Haha.” Ledek Zahra.
“Tapi kalo boleh jujur lagi.. boleh ngga?”
“Ya boleh lah.”
“Kalau boleh jujur, gue emang suka sama lo, Zah.”
“Dulu kan?”
“Ya sekarang lah. Malam ini, gue rasa gue suka sama seorang Zahra Damariva. Dan gue cuma bisa berharap, dia mau nerima gue kaya dulu lagi. Melanjutkan hubungan yang sempat terputus.”
Zahra diam. Alvin melanjutkan pembicaraannya sambil menatap Zahra.
“Lo mau jadi cewe gue lagi, Zah? Gue butuh lo.” Ungkap Alvin. Zahra belum berani menatap Alvin. Zahra hanya memandang kearah taman rumahnya.
“Ngga mau yah? Yahhh yaudah ngga apa-apa kok.” Alvin mengalihkan pandangannya dari arah Zahra, kearah depan.
“Siapa bilang? Gue mau kok.” Kini Zahra menatap Alvin.
“Beneran?”
“Iya, Alvin.”
“Jadi.. Kita balikan, Zah?”
“Iyaaa sayang.” Zahra mencubit pipi Alvin dengan gemas.
“Makasih, Zahra.” Ungkap Alvin senang.
“Makasih kembali.”
“Yaudah aku balik dulu yaaa Zahra. Good night.” Ujar Alvin manja.
“Night, Vin.”

Alvin menuju ke motornya, memakai helm dan menaiki motornya. Setelah tersenyum pada Zahra, Ia langsung pulang. Zahra membalas senyum Alvin, lalu memasuki rumahnya. Ke kamarnya. Sulit dipercaya, cowo yang pernah menjadi miliknya, kini menjadi miliknya kembali. Betapa senangnya Zahra.

Minggu, 30 Mei 2010

It's our love story | Part 8

Posted by Arimbi's Story at 23.11 0 comments

Berjanjilah wahai sahabatku

Bila kau tinggalkan aku

Tetaplah terseyum

Meski hati

Sedih dan menangis

Kuingin kau tetap tabah menghadapinya

Rio sedang bernyanyi sambil memainkan gitarnya. Bersandar pada bantal yang ditegakkan dipinggir kasurnya di kamarnya. Merenungi kata-kata Shilla. ’Kayanya emang udah sebaiknya gue baikan sama Alvin deh.’ Ujarnya dalam hati. Tiba-tiba, Ozy masuk ke kamarnya.

”Ka Rio? Gue boleh masuk yah ka.”

”Silakan, Zy.” Ozy segera naik ke atas kasur, duduk disebelah Rio.

”Ka, gue mau nanya.”

”Apa?” Rio masih memainkan gitarnya.

”Ka Alvin sama Ka Zahra punya hubungan apa sih?”

”Hah? Ngapain nanya gitu? Jangan bilang lo naksir Zahra, Zy!”

”Enggalah, Ka. Bukan gue, tapi kayanya Acha deh.”

”Acha naksir Zahra? Yang bener aja lo!” Rio kaget dan meletakkan gitar disebelahnya.

”Acha naksir Ka Alvin, bukan Ka Zahra nya! Aduhhh.”

”Oh iya bener bener. Sorry gue lagi ada pikiran.”

”Terus mereka ada hubungan apa, Ka?”

”Cuma mantanan aja kok. Hemm.. Acha yang suka Alvin kenapa lo yang ribet, Zy?”

”Ngga kok, ngga apa-apa. Tadi gue kasihan, Acha jelaous liat Ka Alvin berduaan sama Ka Zahra.”

”Kapan?”

”Pas istirahat.”

”Hemm pantes si Zahra tadi ngilang pas istirahat! Taunya berduaan sama Alvin!”

”Menurut Kaka, ada ngga kesempatan Acha buat jadian sama Ka Alvin?”

”Wah, ngga tau gue, Zy. Emang kenapa sih? Kok lo pengen banget Acha sama Alvin.”

”Selama gue temenan sama Acha, gue cuma jadi temen curhat Acha aja, Ka. Jujur, gue nyimpen rasa sama Acha dari dulu, tapi cuma gue pendam. Gue cuma bisa jadi sebatas sahabat aja. Makanya gue mau semua yang terbaik buat Acha.”

”Zy... Lo terlalu baik. Lo harus nyoba dapetin Acha!” Rio memandang Ozy, adik satu-satunya itu.

”Ngga bisa, Ka..” Ozy murung.

”Gue support lo banget. Kalo lo mau, Alvin pasti ngga mungkin sama Acha gitu aja.”

”Makasih Ka. Ngga salah gue cerita sama lo.” Ozy tersenyum.

”Sama-sama, Zy. Udah jarang lo ngga cerita sama gue lagi.”

Keesokan harinya saat jam istirahat. Rio dan Cakka sudah janjian didepan kelas Alvin untuk meminta maaf padanya. Shilla juga tau, dan sangat mendukung mereka. Tapi, setelah lama berdiri di depan pintu kelas Alvin, mereka belum meminta maaf juga.

”Yo, udah lo duluan sana!” Cakka mendorong punggung Rio.

”Ihh ngga deh, Cak. Lo aja, gue belom siap.”

”Aduh, Rio. Udah deh ah cepetan!”

Tiba-tiba Ify yang baru datang dari ruang guru, melihat tingkah aneh Rio dan Cakka. Ia pun menegurnya.

”Rio? Cakka? Ngapain didepan pintu kelas orang?” Ify heran.

”Ini, Fy. Rio ada perlu sama Alvin!” Jawab Cakka spontan.

”Hah? Apaan sih lo, Cak!!” Rio menyikut Cakka.

”Udah diem aja lo!”

”Yaelah, tuh Alvin nya ada di dalem. Masuk aja, lagi.” Ify menunjuk Alvin yang sedang membaca komik di mejanya. Rio dan Cakka saling memandang satu sama lain.

”Vin! Dicariin Rio sama Cakka nih!!” Tanpa pikir panjang, Ify memanggil Alvin. Alvin bingung. Terpaksa Rio dan Cakka menghampiri Alvin. Ify duduk di tempat duduknya.

”Ada apa?’ Tanya Alvin.

”Hemm.. gini, Vin. Gue sama Rio mau minta..” Omongan Cakka terhenti.

”Minta apa?”

”Aduh, lo aja deh, Yo!”

”Haahh? Engga mau ah, lo aj..” Omongan Rio juga terhenti ketika melihat mata Cakka melotot padanya.

”Apaan sih?” Alvin heran.

”Alvin. Lo itu sebenernya sahabat gue dari dulu. Dan jujur gue nyesel banget marahan sama lo. Gue mau minta maaf, Vin..” Rio memohon.

”Gue yang buat Rio jadi kaya gini. Karena itu gue juga mau minta maaf ya, Vin.” Cakka menambahkan. Alvin tersenyum.

”Ngga, gue yang salah. Gue udah bohongin sahabat gue sendiri. Dan gue udah mandang yang ngga bener tentang Cakka. Sorry.”

”Yailah, Vin! Jangan minta maaf balik dong! Udah susah nih ngomong maaf nya gue!” Rio memukul pundak Alvin.

”Hahaha udahlah yang penting kita bertiga udah baikan, kan?” Kata Cakka.

”Iya dong.” Alvin tertawa.

”Kantin, yuk! Laper gue.” Ajak Rio. Mereka bertiga pun pergi menuju ke kantin. Saat melewati kelas 9c, ada Zahra dan Shilla.

”Waaahh, udah akur nih?” Kata Shilla. Alvin, Rio, dan Cakka hanya tertawa.

”Zahra. Gue bawa motor Kaka gue nih, nanti gue anter lo pulang ya.” Kata Alvin tiba-tiba.

”Cie.. ada apa ini? Tanda-tanda mau balikan. Haha.” Goda Rio.

”Apaan sih, Yo. Oh oke deh, Vin.” Zahra tersipu malu. Alvin, Rio, dan Cakka melanjutkan perjalanan ke kantin. (emang kantin sejauh apa sih -_-)

Di kelas 8b

”Achaaa.. kok masih murung, sih?” Ozy menghampiri Acha yang sedang bersedih di tempat duduknya.

”Heemmm..”

”Ka Alvin sama Ka Zahra cuma mantanan aja, kok.”

’”Iya? Wah lega gue kalo gitu.” Acha keceplosan.

”Ciee Acha suka sama Ka Alvin.” Ledek Ozy.

”Apa sih, Zy!”

”Gue udah bisa nebak, Cha. Sejak kapan?”

”Kapan ya? Mungkin sejak Ka Alvin nyelamatin gue waktu digodain Ka Rio kali ya.”

”Asik deh, yaudah good luck ya dapetin Ka Alvin.”

”Ihh.. Ozy apaan sih..” Wajah Acha memerah.

’Ngga bisa, Ka. Gue ngga bisa dapetin Acha kalau gini keadaannya.’ Kata Ozy dalam hati, mengingat perkataan Ka Rio semalam.

Di Kantin

”Cappucino lo enak, Cak. Mimta lagi ya.” Rio menyambar gelas berisi capuccino milik Cakka, tapi segera diambil kembali oleh Cakka.

”Isshh, enak aja! Beli sendiri!”

Tiba-tiba Ray dan Sivia datang. Tepat di depan meja kantin tempat Alvin, Cakka, dan Rio, mereka berhenti. Terjadi pertengkaran diantara mereka. Untung kantin lagi sepi.

”Vi. Ngertiin aku, dong. Dea itu cuma temen aku aja.”

”Mana ada temen yang segitu tega nya ngaku-ngaku pacar kamu ke aku!” Sivia melipat kedua tangannya di dada.

”Aku juga ngga tau, Dea segitu jahatnya sama aku, Vi.”

”Ah udahlah, Ray. Kalau kamu udah bosen dan emang udah mau putus sama aku, ngga gini caranya!” Sivia berlari meninggalkan Ray. Tapi Ray tak mengejarnya. Alvin, Rio, dan Cakka bengong melihat kelakuan pasangan itu.

”Ray? Duduk sini aja, Ray!” Panggil Alvin. Ray kemudian duduk dihadapan mereka.

”Hufftt..” Ray terlihat sedih.

”Kenapa lo sama Sivia?” Tanya Cakka.

”Berantem.” Jawab Ray singkat.

”Kita juga tau kalau itu. Kronologisnya gimama?” Kata Rio.

”Semalem, Dea, temen gue kerumah. Ya dia emang udah suka sama gue dari lama. Tapi baru kali ini dia segitu jahatnya. Pas gue lagi di kamar mandi, dia pake hp gue buat sms Via. Isinya ’Dea Christa Amanda telah menjadi pacar Ray detik ini.” Via kan sensi tuh, yaudah dia langsung percaya terus sms balik isinya marah-marah.”

”Oooohhhh.” Kata mereka berbarengan.

”Sabar ya, Ray. Kita cuma bisa doain semoga masalahnya cepet selesai deh.” Kata Alvin.

”Doa doang? Ah mending gue curhat ke Iel aja, ah!” Ray beranjak dari tempat duduknya. Sementara Alvin, Rio, dan Cakka hanya geleng-geleng kepala.

Sivia yang tadi berlari meninggalkan Ray ternyata sekarang berada di kelas Ify. Menceritakan semua masalah yang sedang dialaminya kepada Ify.

”Ya ampun, Vi. Udah dong, jangan sedih lagi. Itu kan cuma perbuatan iseng fans Ray.”

”Iya gue juga mikir gitu. Tapi gue udah terlanjur kesel, Fy. Apalagi Ray itu ngga pernah tegas sama cewe. Itu yang ngga gue suka dari dia.”

”Via.. Jangan kaya gitu dong. Itu kan udah kekurangannya Ray.”

”Tau deh, gue udah males sama Ray!!”

Sedangkan Ray yang tadi ingin curhat sama Iel, sudah berada di kelas 9a. Disana, Iel sedang mendengarkan lagu pake handsfree.

”Iel!” Ray menepuk pundak Iel. Iel melepas handsfree yang sedang Ia pakai.

”Eh, Ray. Gimana udah baikan sama Via?”

”Belum. Masih marah sama gue, dia.” Ujar Ray murung.

”Coba lagi besok. Mungkin Via lagi sensi.”

”Oke. Lo emang paling bener kalau ngasih saran!”

”Hehe iya dong. Udah ah, lagi dengerin lagu nih.”

”Mau dong!” Ray memasang handsfree pada telinga kirinya.

*Sepulang sekolah

Inget kan tadi Alvin ngajak Zahra pulang bareng? Yup sekarang Alvin udah nungguin Zahra di depan kelas 9c. Kelasnya Alvin udah bubar duluan, karena tadi ngga ada guru pas jam terakhir. Satu persatu anak 9c keluar dari ruang kelasnya. Ada Cakka, Patton, Kiki, Gita, Olivia, Angel, lalu Shilla dan Zahra.

”Zahra!” Panggil Alvin.

”Waduh Zahra udah ada yang nungguin. Yaudah gue balik duluan ya. Bye.” Shilla melambaikan tangan pada Alvin dan Zahra.

”Yuk. Langsung pulang?” Tanya Alvin.

”Ke perpus dulu deh, Vin. Buku pengetahuan yang gue pinjem ini udah harus dibalikin hari ini.”

”Oke oke. Kemanapun yang lo mau, pasti gue anterin.” Zahra hanya bisa geleng-geleng kepala.

Zahra memasuki perpustakaan sendirian. Alvin menunggu diluar, dengan alasan malas membuka sepatunya. Iya juga sih. Alvin duduk di kursi didepan perpustakaan. Tak lama kemudian, Zahra keluar dari perpustakaan. Mengambil sepatu dan duduk di sebelah Alvin. Sambil memakai sepatunya, Zahra mengajak ngorol Alvin.

”Vin.”

”Iya?”

”Kok tumben lo ngajak gue pulang bareng lo?”

”Kan gue lagi bawa motornya Ka Nova. Orangnya lagi dirumah, lagi libur kuliah.”

”Kenapa harus gue?”

”Karena Rio pasti sama Cakka dkk. Ray sama Iel. Ify sama Sivia. Kenapa? Lo ngga mau pulang sama gue?”

”Engga kok. Mau-mau aja gue.”

”Bagus deh. Udah yuk.”

Mereka berjalan menuju ke parkiran motor. Setelah menyalakan motor ’Ka Nova’ itu, Zahra naik. Kemudian melesat jauh menjauhi gedung sekolah SMP 6288. Hening di perjalanan. Susah ngobrolnya, Alvin kan pakai helm soalnya. 30 menit kemudian mereka tiba dirumah Zahra.

”Thanks, Vin. Mampir dulu yuk.” Ajak Zahra.

”Ngga deh, Makasih. Salam aja buat keluarga lo, ya.” Alvin membuka helmnya.

”Yaudah gue balik ya.” Alvin memakai helmnya kembali. Segera pergi dari rumah Zahra, menuju rumahnya. Cuma 10 menit dari rumah Zahra ke rumah Alvin.

Alvin heran mendapati pintu gerbang rumahnya terbuka. Sepertinya Mas Oni (supir Alvin) baru memarkirkan mobil keluarganya itu. Alvin segera memarkirkan motor Kaka nya itu, dan melepaskan helm yang dikenakannya. Ia memasuki ruang tamu rumahnya dan terkejut melihat seseorang sedang bersama Ka Nova dan Ibunya. Sosok dari belakang itu tak dikenalinya. ’Itu siapa sih?’ batinnya.


to be continued...

It's our love story | Part 7

Posted by Arimbi's Story at 23.08 0 comments

”Alvin Jonathan Sindunata. Bisa bantu gue?”

”Zahra? Kenapa?”

”Ngga, gue lagi ngga ada temen aja, Vin. Gue bingung mau kemana. Makanya gue nyamperin lo aja.”

”Tumben lo ngga bareng Shilla.”

”Gue berantem sama Shilla.”

”Serius?”

”Iya. Habis Shilla punya rencana jahat terus akhir-akhir ini. Males gue.”

”Oh yaudah. Kalo lo lagi ngga ada temen sama sekali, lo boleh ke tempat gue kapan aja.”

”Wah, makasih, Vin. Lo emang baik banget dari dulu.”

”Ngga usah inget masa lalu, Zah.”

”Oh maaf, Vin.” Zahra tertunduk.

”Haha jangan merasa bersalah gitu dong. Ngga segitunya kok.” Alvin mengacak-acak rambut Zahra. Zahra tersenyum.

Di kelas 9c

”Hah masa sih Rio kaya gitu?” Ujar Gita tak percaya.

”Beneran deh.” Shilla meyakinkan.

”Ngga nyangka banget, Rio suka mainin cewe.” Kata Olivia.

”Iya, gue juga awalnya ngga nyangka. Tapi kata Shilla gitu.” Angel menambahkan.

”Udah deh, buang jauh-jauh pikiran kalian tentang Rio yang baik, oke.” Shilla menyarankan.

’Heh, cewe manja! Ngapain lo nyebarin kabar yang ngga bener tentang gue?” Rio tiba-tiba datang bersama Cakka.

”Kabar ngga bener? Itu fakta kali, Yo.” Bela Shilla.

”Fakta apaanya! Oke, gue kasih tau sekali lagi ya di depan temen-temen lo ini. Gue ngga pernah jadian sama lo! Suka aja engga! Dan gue ngga pernah mainin cewe! Inget itu!” Rio membentak.

”Lho? Jadi semua yang dibilang Shilla itu bohong?” Kata Angel.

”Iyalah! Omongan dia tuh jangan dipercaya!”

”Apaan sih lo, Yo, main ngomong kaya gitu.” Olivia membela Shilla.

”Gue bisa lebih marah dari ini, Shill, kalau lo ngga mau bilang yang sebenarnya!” ancam Rio.

”Oke, oke! Gue udah bohong sama kalian semua! Puas kan lo, Yo! Sekarang gue ga bakal punya temen lagi kalau udah gini keadaannya!” Shilla menangis dan pergi meninggalkan kelas 9c sambil berlari.

”Rio! Omongan lo tadi tuh kasar banget tau! Pikirin perasaan Shilla juga dong!” Cakka membentak kembali Rio dan kemudian pergi mengejar Shilla. Rio heran dengan kelakuan Cakka.

Cakka mendapati Shilla sedang menangis di kursi, di taman belakang. Ia pun menghampirinya dan duduk disebelahnya.

”Shilla.”

”Cakka!” Shilla memandang Cakka yang tiba-tiba ada disebelahnya.

”Ngga usah dipikirin, Shill yang tadi. Rio kebawa emosi.”

”Tapi kemaren dia juga bentak gue. Apa setiap hari dia kebawa emosi?”

”Itu kan salah lo juga, Shill.”

”Kok lo nyalahin gue? Oh jadi lo lebih milih sahabat lo dibanding gue, sepupu lo?”

”Ya ngga gitu juga, Shill.”

”Ah tau deh.” Shilla cemberut. Cakka memohon.

”Minta maaf sama Rio ya, please.”

”Yaudah deh.” Ungkap Shilla lembut. Cakka tersenyum dan mengajak Shilla kembali ke kelas 9c.

Ternyata anak kelas 9c sedang membicarakan kejadian tadi. Rio sedang memberitahukan keadaan sebenarnya yang lebih jelas kepada Angel, Gita, dan Olivia. Terasa hening sejenak ketika mereka melihat Cakka memasuki kelas, diikuti Shilla.

”Rio, ada yang mau minta maaf. Gue harap lo terima maaf dia.” Cakka mulai berbicara.

”Tergantung ya.”

”Masih mending, dia mau minta maaf.”

”Huh oke, oke. Gue dengerin permintaan maaf gebetan lo!”

”Gebetan? Siapa? Shilla? Yeee ngga mungkin lah, dia kan sepupu gue!”

”Apaaaa?!” Teriak Rio, Angel, Gita, dan Olivia.

”Kenapa sih? Udah ah kasian Shilla. Ayo Shill.”

”Rio, gue mau minta maaf. Gue ngga mau jadi Shilla yang suka ngejar-ngejar lo. Gue ngga mau jadi Shilla yang suka bilang kalau lo cowo gue. Dan gue... ngga mau kehilangan sahabat gue. Maaf.” Shilla tertunduk.

”Gue terima maaf lo.” Rio tersenyum dan menaikan wajah Shilla yang tertunduk. Shilla membalas senyum Rio.

”Angel, Gita, Oliv. Maaf ya.”

”It’s okey.” Ujar Gita. Bersamaan dengan senyuman Angel dan Olivia.

”Ohya gue harus minta maaf sama Zahra. Zahra mana ya?”

’Waduh, gue ngga lihat dia dari tadi deh.” Jawab Olivia.

”Hemm yaudah nanti aja deh.”

Di koridor dekat kelas 9b

”Jadi gitu, Cha, alasan kenapa nasi goreng yang gue bawa hari ini asin banget.” Ujar Ozy.

”Oh hahaha makanya jangan sok tau deh, main ngasih garam ke nasi goreng yang dalam proses masak sih.” Acha tertawa.

”Udah ah, Cha. Malu nih gue.”

”Maaf, Zy. Habis cerita lo kocak banget.”

”Hehehe. Ohya ngomong-ngomong kita ngapain sih lewat sini? Kalau ke kantin lewat sini sih jauh banget.”

”Lagi pengen lewat sini aja, Zy.”

”Oh yaudah lah. Eh itu Ka Alvin! Lho sama cewe cantik yang ngga gue kenal. Lo kenal, Cha?”

”Mana?” Acha memandang Alvin yang sedang berduaan dengan Zahra. Mesra. Menyenangkan. Tapi menyakitkan di hati Acha.

”Cha? Ada apa?” Ozy heran. Acha tiba-tiba saja berlari meninggalkan Ozy.

”Cha! Acha!’” Teriak Ozy. Alvin mendengar teriakan Ozy dan melihatnya berdiri di depan kelas 9b. Tapi Ia tak mau menghampiri Ozy.

*****

Sepulang sekolah, kelas 9c

”Zahra! Pulang bareng yuk!” Ajak Shilla.

”Ngapain? Bukannya lo udah ngga mau temenan sama gue, Shill?”

”Siapa bilang? Lo sahabat terbaik gue dan gue baru sadar itu. Maafin gue ya. Pegang janji gue kalau gue ngga bakal mengulangi kejadian ini.”

”Hemm....” Zahra berfikir sejenak.

”Kenapa?”

”Ngga, hehe. Oke deh.”

Di kelas 8b

”Acha. Mau pulang sama gue? Dari tadi lo murung terus. Ada apa sih?” Ozy duduk di atas meja Acha. Acha sedang membereskan barang-barangnya ke dalam tas.

”Ngga, Zy. Makasih.”

”Mau cerita? Gue pasti dengerin lo.”

”Ngga deh.”

”Gue tau lo paling ngga tahan kalau gue udah tawarin lo buat cerita kan. Hayooo.”

”Ah. Oke oke gue nyerah, Zy. Gue bete sama Ka Alvin.”

”Ka Alvin? Kenapa?”

”Dia mesra banget sama Ka Zahra. Dia aja ngga pernah segitu mesra nya sama Ka Ify.”

”Kok gitu? Jangan-jangan lo suka Ka Alvin yaaa?” Goda Ozy.

”Ih apaan sih, Zy. Gue cuma merasa bete aja kali.”

”Yakin?”

”Iya!”

”Oh yaudah. Ada lagi yang mau diceritain?”

”Engga. Gue mau pulang, udah ditungguin nyokap.” Acha meninggalkan Ozy sendirian.

”Udah ngedengerin cerita dia, sekarang malah ditinggal pergi. Huft.” Keluh Ozy sambil bergegas pergi meninggalkan ruang kelas 8b yang sudah kosong.

Sepulang sekolah, Ify pergi kerumah Sivia untuk mengerjakan PR fisika bersama.

Dirumah Sivia

”Fy. Sebenernya lo masih suka sama Alvin ngga sih?”

”Ngga tau deh. Mungkin rasa itu juga ngga bisa dibilang suka.”

”Kenapa?”

”Rasa suka gue cuma buat sahabat masa kecil gue.”

”Oh yang nama nya Rio itu ya?”

”Iyap. Sesuai dengan cincin ’RA’. Rio Alyssa.”

”Ouw so sweet. Haha.”

”Idih Via.”

”Ah udah ah, ayo PR fisika nya masih banyak nih.”

”Oh iya bener. Hampir lupa gue.”

Dirumah Shilla

’Rio sama Cakka lama banget deh.’ Keluh Shilla dalam hati. Ia sudah bosan menunggu Rio dan Cakka di ruang tamu rumahnya. Minuman juga sudah disiapkannya. Rio dan Cakka memang sudah disuruh kerumah Shilla sekarang. Memang dadakan sih. Baru 15 menit yang lalu Shilla menyuruh mereka datang.

Kilas Balik

-To : Cakka (sepupu)-

Ke rumah gue sekarang ajak Rio!!

-From : Cakka (sepupu)-

Wajib? Kalau ngga gue ngga mau dateng.

-To : Cakka (sepupu)-

Wajib lah. Ada yang mau gue omongin sama lo, sama Rio. Cepetan!

-From : Cakka (sepupu)-

Iya tunggu aja.

Kembali ke Shilla

”Shilla!” Suara Cakka membuat Shilla beranjak menuju pintu gerbang rumahnya, membukakan pintu untuk Cakka dan Rio. Cakka segera memarkirkan motornya.

”Ayo masuk.” Ajak Shilla. Cakka dan Rio memasuki rumah Shilla dan duduk di sofa, di ruang tamu Shilla.

”Ada perlu apa sih, Shill?” Tanya Rio heran.

”Bentar, gue mau minum dulu ya, Shill. Haus nih.” Cakka mengambil gelas berisi sirup jeruk yang ada di meja.

”Yaudah cepetan.”

”Hffttt.. udah. Ayo mulai.” Cakka mengisyaratkan.

”Gue mohon sama kalian, please banget baikan ya sama Alvin.”

”Baikan sama Alvin? Ogah deh. Dia udah bohong sama gue soal Ify!” Rio menolak.

”Alvin tuh sok jagoan banget, belain Acha waktu kita lagi gangguin Acha. Males banget deh baikan sama dia!” Cakka juga ikut menolak.

”Gue risih liat Rio jauh dari Alvin. Biasanya kalian kan selalu barengan. Dan gue juga ngga mau, Cak, lo jadi pengaruh buruk buat Rio.”

”What?! Gue jadi pengaruh buruk buat Rio? Maksud lo apa?” Cakka sedikit emosi.

”Cak. Lo nyadar ngga sih? Geng lo, termasuk Kiki, Patton itu dipandang apa sama anak-anak? Mereka pandang lo tuh anak-anak ngga bener! Dan semenjak Rio jadi sering sama kalian, mereka fikir kalian bawa pengaruh buruk buat Rio!”

”Cakka, Kiki, sama Patton baik kok. Lo jangan sok tau, Shill.” Bela Rio.

”Gue cuma mengutarakan apa yang gue denger dari anak-anak. Gue mau lo baikan sama Alvin. Sahabat baik lo, Yo. Gue mau Cakka jadi cowo yang lebih baik. Itu aja.”

Rio dan Cakka menunduk. Memikirkan perkataan Shilla yang peduli terhadap mereka.

”Gue harap kata-kata gue tadi ngga menyinggung kalian. Gue mau yang terbaik buat Rio dan sepupu gue. Kalian boleh balik sekarang kalau kalian mau, buat merenungi kata-kata gue. Makasih udah mau dateng dan dengerin gue.”


to be continued...

Senin, 20 September 2010

Happy Birthday Alvin!

Tanggal berapa sekarang? yup! 20 September 2010! atau tanggal istimewa 20092010. It's Alvin Jonathan Sindunata's birthday. Alvinoszta punya persiapan tersendiri lho dalam menyambut hari ulangtahun Alvin ini.

1. Perencanaan pembuatan trending topic di twitter dengan format #alv13bday
2. Setiap alvinoszta menggunakan twibbon khusus pada avatar mereka baik di twitter maupun facebook. ini contoh twibbonnya.

3. Adanya desain grafis ucapan ulangtahun ke Alvin. Alvinoszta yang buat ini banyak banget, lho. Salah satunya seperti ini desainnya.


4. Menjelang pukul 00.00 tanggal 20 September, alvinoszta pada rela begadang demi ngucapin happy birthday ke Alvin. wew, bayangkan padahal besoknya adalah hari sekolah. tapi mereka rela begadang. ckck memang alvinoszta sejati yaaa.

Cukup meriah kan persiapan penyambutan hari spesial Alvin? yadooong demi Alvin, alvinoszta bakal melakukan yang terbaik.

Saya, perwakilan dari ribuan alvinoszta ingin mengucapkan "HAPPY BIRTHDAY, ALVIN" Semoga panjang umur, sehat selalu, terus menjadi kebanggan alvinoszta. Alvinoszta in my mind, in my heart, in my life :)


Minggu, 01 Agustus 2010

It's our love story | Part 12 (LAST PART)

"Ify.." Rio memanggil nama Ify yang terbaring lemah disampingnya.
"Ify.. Kok bisa jadi kaya gini sih.." Rio tertunduk.

"Rio! Gimana Ify?" Sebuah suara membuat Rio membalikan badan, melihat kearah pintu di ruangan itu.
"Masih belum sadar, Vin."
"Kok Ify bisa sampai kaya gini, Yo?"
"Gue juga ngga tau, Zahra. Tadi gue lagi markirin motor, terus tau-tau Ify udah jatuh."
"Sabar, Yo. Gue yakin, Ify ngga apa-apa." Alvin memegang pundak Rio.
"Semoga gitu. Makasih, Vin."


*****

"Sus, kamar Alyssa Saufika Umari nomor berapa ya?"
"Permisi, Alyssa Saufika Umari ada di kamar nomor berapa ya?"

Seorang laki-laki dan seorang perempuan menanyakan pertanyaan yang sama di resepsionis secara berbarengan. Penjaga resepsionis heran. Mereka saling memandang dengan wajah yang terkejut.

"Si.. Sivia?"
"Ray? Kamu kok disini?"
"Aku mau jenguk Ify lah. Kamu juga kan."
"Yaudah sih slow aja."
"Nada ngomongnya biasa aja bisa kali."
"Apasih!"
"Maaf, mas, mba. Tadi nanya kamarnya Alyssa kan? Ia ada di kamar nomor 306." Perkataan penjaga resepsionis melerai debat mereka.
"Oh iya makasih." Sivia pergi dari meja resepsionis, meninggalkan Ray.
"Via, tunggu!" Ray mengejar Sivia, dan kini Ia ada disamping Sivia. Berjalan berdampingan.
"Vi.. Sampai kapan hubungan kita kaya gini? Terima maafku ya, terus kita ngga akan berantem lagi kaya gini."
"Ngga semudah itu, Ray."
"Maksud kamu?"
"Aku udah ilfeel sama kamu. Aku udah kesel sama kamu. Aku butuh waktu, Ray!"
"Tapi aku ngga tahan kaya gini terus, Vi."
"Yaudah kalau kamu ngga tahan, kita putus aja!"
"Apa? Vi, aku ngga mau putus.."
"Kamu nyadar ngga sih, kita udah ngga cocok Ray."
"Tapi kita masih bisa perbaiki kok. Please, Vi."
"Maaf, Ray. Keputusan aku udah tetap."
"Via.. Hhh yaudahlah kalau itu memang yang terbaik buat kita. Makasih, Vi udah jadi penghias hati aku selama 6 bulan terakhir."
"Iya, Ray.."


*****

"Haha dasar si Cakka! Bukannya beli jaket yang warna biru aja biar Shilla senang." Komentar Rio.
"Tau tuh. Mana pas mau beli yang warna item nada ngomongnya ngeselin banget, Yo." Alvin menambahkan.
"Terus mana tuh Cakka sama Shilla?"
"Ngga tau, tadi gue sama Zahra berangkat duluan sih."
"Rio! Alvin! Itu, lihat Ify!" Zahra menunjuk Ify yang masih terbaring di tempat tidur.
"Kenapa, Zah? Ify ngga apa-apa tuh." Ujar Alvin.
"Itu coba lihat! Tangan Ify perlahan bergerak!"
"Iya apa? Bentar gue perhatiin dulu." Rio memandang tangan Ify, dan memang benar tangannya bergerak.
"Ri.. Rio.." Samar-samar terdengar suara Ify yang memanggil nama Rio.
"Iya, Ify. Gue disini." Rio menghampiri Ify. Kini, Ia sedang duduk di sebuah kursi disamping ranjang Ify.

"Ayo, Zahra. Biarkan mereka berdua dulu." Alvin menarik tangan Zahra keluar ruangan Ify.

"Gue dimana, Yo?" Tanya Ify, masih dengan keadaan yang lemas.
"Rumah sakit. Lo tadi kecelakaan, Fy."
"Ohya? Tadi gue habis nyebrangin gadis kecil. Terus pin dia jatuh ditengah jalan raya. Yaudah gue ambilin. Terus habis itu gue ngga sadar apa-apa deh."
"Ya ampun, Ify. Harusnya lo lebih hati-hati."
"Habis, yang gue lihat dari jauh, di pin itu ada foto gadis kecil sama sahabat cowo nya. Gue terlalu antusias ngambilnya. Soalnya gue keinget.. Sama... Sama... Sahabat kecil gue. Gue kangen sama dia." Jelas Ify.
"Ify.."
"Ify.. Lo masih inget kan siapa nama sahabat kecil lo?"
"Mario. Tapi di cincin yang dia kasih ini, dia pakai inisial R untuk namanya, Rio. A untuk Alyssa." Ify menunjukkan cincin yang terpasang di jari tengahnya berinisial 'RA'.
"Dan.. Fy? lo tau kan siapa nama gue?"
"Rio? Ma.. Mario?"
"Iya, Fy. Gue sahabat kecil lo, Mario."
"A.. Apa?!" Butiran bening dari mata Ify mulai mengalir.
"Kenapa?"
"Mario? Kenapa lo baru muncul? Gue udah nunggu bertahun-tahun, Yo.."
"Gue baru sadar kalau lo Alyssa kecil gue, Fy. Maaf."
"Ngga apa-apa, Mario. Yang penting gue udah ketemu sama sahabat kecil gue."
"Panggil Rio aja ya. Biar gue juga panggil lo Ify, bukan Alyssa."
"Iya, Rio."
"Heumm, Fy. For the second time, gue harap lo punya jawaban yang beda dari jawaban yang dulu. Lo... Lo mau ngga jadi pacar gue?"

Hening sejenak. Ify sedang berfikir. Hingga akhirnya mengeluarkan suara untuk mengatakan 3 kata.

"Iya. Gue mau."
"Makasih, Ify."

Sementara itu, diluar ruangan ada Alvin dan Zahra yang sedang duduk di kursi.

"Ihh Alvin. Kamu kok sempet-sempetnya main PSP sih?!"
"Ya sempetlah, Zahra. Toh aku lagi ngga ada kerjaan."
"Alvin! Zahra!" Seseorang memanggil nama mereka.
"Sivia? Dan.. Ray?"
"Ify gimana, Vin, Zah?" Tanya Sivia.
"Udah sadar kok. Itu di dalem. Tapi jangan masuk dulu, Ify lagi ngomong berdua sama Rio. Mending kalian duduk dulu deh." Jelas Alvin.

Sivia mengangguk. Lalu Ia duduk disebelah Zahra. Sedangkan Ray duduk disebelah Alvin dengan tampang yang sedih.

"Lo kenapa, Ray?" Tanya Alvin, tanpa mengalihkan pandangan dari PSPnya.
"Putus."
"Oh."
"....."
"Hah? Putus?! Serius lo?"
"Lo tuh yang ngga serius. Gue bilang putusnya kapan, nyadarnya kapan."
"Sorry, sorry. Ini lagi seru sih mainnya."
"Main apa sih? Pinjem dong." Ray melirik PSP milik Alvin.
"Yee udah lanjutin ceritanya dulu."
"Iya ah. Tadi gue ketemu Via di meja resepsionis. Terus kita barengan menuju kesini. Disepanjang jalan berantem kan, terus ujung-ujungnya Via minta putus."
"Tragis ah."
"Kisah cinta gue? Emang."
"Bukan. Ini mobil gue kebalik karena tabrakan." Alvin menunjukkan PSPnya kepada Ray. Ray langsung cemberut.

"Hello semua. Wah udah rame. Ify gimana?" Cakka yang baru tiba bersama Shilla langsung menghampiri Alvin, Ray, Sivia, dan Zahra yang sedang duduk.
"Darimana lo, Cak? Lama amat baru nyampe jam segini." Tanya Alvin.
"Tuh, Shilla. Tadi ketemu sahabat lamanya di mall. Terus biasa, ngegossip. Lamaaaa banget."
"Yaudah sih, Cak. Lo juga tadi nyari sepatu lamaaaa banget." Balas Shilla. Cakka malu.
"Udah, udah. Hemm, Vin. Masuk aja yuk, mungkin Rio udah selesai ngomong sama Ify." Usul Zahra.

Mereka berenam pun memasuki ruangan Ify. Ify dan Rio masih berbicara dengan akrab.

"Ify! Gimana keadaan lo?" Sivia yang pertama kali bertanya pada Ify.
"Udah baikan, Vi. Walau masih lemas nih."
"Rio, Rio. Daritadi lo akrab banget ngobrolnya sama Ify. Kaya baru jadian aja." Kata Cakka asal.
"Emang baru jadian." Jawab Rio santai.
"Serius?" Alvin kaget.
"Iyalah, Alvin."
"Huaaa selamat deh. Langgeng ya!"
"Amin, makasih, Ray. Lo sendiri gimana sama Sivia?"
"Now, it's over." Ujar Ray singkat.
"Ya ampun, sabar ya Ray. Sivia juga sabar ya." Kata Ify.
"Iya, Ify. Kalau suka ngga harus memiliki, kan?" Ungkap Ray.

Drrrttt! Rio merasakan handphone nya bergetar. Ia mengambilnya dari saku celana dan memperhatikan layar handphonenya. 'Oh ada sms dari Ozy.' Ia segera membacanya.

-From : Ozy-

Ka, gue udah ngungkapin perasaan gue sama Acha. Tapi gue ditolak. Ya, kalau suka ngga harus memiliki kan?

Rio tersenyum membaca isi pesan singkat tersebut. Tanpa membalasnya, Ia menutup pesan itu dan kembali memasukkan handphonenya kedalam saku celana.

"Iya, Ray. Kalau suka ngga harus memiliki."

It's our love story. Ini kisah cinta kami semua. Alvin-Zahra dulu pernah menjalin kisah cinta yang indah dan sempat terputus, kini kembali. Ray-Sivia sempat memiliki kisah cinta tersendiri, walau akhirnya harus berakhir. Cakka-Shilla mempunyai kisah cinta yang berbeda, yaitu sebagai keluarga. Dan juga Rio-Ify, yang akan memulai kisah cintanya mulai hari ini, hingga seterusnya.


TAMAT


Ucapan terima kasih, disampaikan kepada pembaca cerita bersambung ini, khususnya Aprill, Risti Astari, Dian Martina Octavia, Kak Anisa Fitriana, Monique Hoesan. Juga untuk Karima Fadla dan Sylvia Restu Mayestika yang sudah memberikan ide dalam cerita bersambung ini :)

It's our love story merupakan cerita bersambung pertama yang penulis buat. Karena ini part terakhir, komentarnya ditunggu ya. Untuk masukkan di cerita bersambung selanjutnya. See you!

With love,
Arimbi

It's our love story | Part 11

“Achaaa, ada temanmu nih.” Teriak Mama Acha dari luar kamar Acha.

Acha yang sedang mendengarkan lagu melalu handphonenya, berjalan keluar kamarnya menuju ruang tamu. Betapa kagetnya Acha ketika tamu itu adalah Ozy. Ia pun segera duduk disebelah Ozy, tanpa berkata apapun.
“Pagi, Cha.” Ozy menyapa Acha terlebih dahulu.
“......” Acha tidak menjawabnya.
“Cha, gue cuma mau minta maaf aja. Jujur, gue ngga tau kalau Ka Alvin bakal balikan sama Ka Zahra.”
“......” Acha masih terdiam. Tatapannya kosong.
“Ya, gue kan ngga bisa prediksi kalau mereka bakal balikan. Jadi waktu itu gue bilang mereka cuma mantanan aja. Tapi emang beneran mantanan, lho.”
“......”
“Gue minta maaf banget ya, Cha. Gue ngga mau berantem sama lo cuma karena hal ini. Maafin ya?” Ozy menyodorkan tangannya ke Acha untuk meminta maaf. Tapi tak direspon oleh Acha.
“Heummm ngga mau yah? Yahh Acha kok gitu sih..” Ozy menurunkan tangannya.
“Acha, emang masih berharap sama Ka Alvin ya?”
“Masih. Kalau dikasih kesempatan.” Kini Acha mulai berbicara, walau masih belum bisa menatap Ozy.
“Kalau sama orang lain, ngga mau ya?”
“Tergantung.”
“Kalau sama Ahmad Fauzy Adriansyah alias Ozy, gimana?”
Acha kaget. Refleks, langsung menatap Ozy dengan pandangan heran. Ozy jadi salting sendiri.
“Terlalu cepet untuk ngaku ya?”
“Hah?”
“Gue suka sama lo, Cha. Lama kelamaan, gue jadi suka sama lo. Tapi ini beneran terpendam. Apalagi pas lo bilang, lo suka sama Ka Alvin. Rasa suka gue makin terpendam, Cha.”

Acha terdiam dan menunduk.

“Yaaa walau lo masih berharap sama Ka Alvin, tapi gue cuma mau bilang kalau gue juga berharap sama lo. Untuk jadi pacar gue pastinya.”

DEG! Kali ini Acha benar-benar kaget. Ozy yang selama ini jadi tempat curhatnya ketika Ia sedang menyukai Ka Alvin malah menyukainya? Acha benar-benar tidak enak dengan perasaan Ozy. Ia pun mulai berbicara lagi.

“Zy...”
“Iyaaa?”
“Gue mau minta maaf. Gue childish banget ya, gara-gara hal kecil aja bisa marah sama lo. Gue minta maaf juga, selama ini nyakitin perasaan lo. Dengan gue curhat tentang rasa suka gue ke Ka Alvin. Dan terakhir gue mau minta maaf kalau.... gue ngga bisa jadi pacar lo. Menjalin persahabatan sama lo itu udah indah banget. Lo ngga harus memiliki gue untuk mengungkapkan rasa suka lo, Okey?” Ujar Acha lembut, sambil menatap Ozy.

Kini Ozy yang terdiam. Tak tau harus mengatakan apa.

“Ozy? Hallo? Lo ngambek ya?”
“Ehh.. engga kok, Cha.”
“Terus?”
“Gue seneng deh, kita bisa sahabatan. Lo bener, walau gue suka sama lo, gue ngga harus memiliki lo. Lagipula sayang ya, kalau mengakhiri persahabatan kita gini.”
“Iya, Zy.” Acha tersenyum manis.

*****

Rio tengah memarkirkan motornya di tempat parkir sebuah toko buku. Ify menunggunya di depan pintu masuk toko buku itu. Pandangan Ify tertuju pada seorang gadis kecil yang kira-kira berumur 6 tahun itu, yang hendak menyeberang. Jalan raya memang tidak terlalu ramai, tapi sepertinya gadis itu tidak punya keberanian untuk menyeberang. Kebetulan, tidak ada jembatan penyeberangan disana. Ify kemudian menghampirinya.

“Hey. Kamu mau menyeberang ya?” Sapa Ify lembut.
“Iya, Ka. Tapi aku ngga berani.”
“Kaka sebrangin ya.”

Gadis itu mengangguk. Ify menggenggam tangan sang gadis, lalu berjalan diatas zebra cross.

“Iyap sampai.”
“Makasih, Ka. Lho?” Gadis itu merasa kehilangan sesuatu. Ia melihat keadaan sekililing dan pandangannya terfokus pada jalan raya yang tadi dilewatinya.
“Kenapa, dek?”
“Pin aku terjatuh, Ka. Itu pin kesayangan aku.” Gadis itu menunjuk benda kecil yang tergeletak ditengah jalan.
“Oh, yaudah kamu tunggu disini, ya. Kaka ambilin.”

Ify kembali menyeberang, menuju tempat terjatuhnya pin itu. Yup, pin gadis kecil itu kini sudah ada di genggamannya. Ify membalikan badannya kearah gadis itu. Ia langsung berjalan menuju gadis itu tapi.......

“Kakaaaa!!!” Teriakan gadis itu membuat orang-orang sekitar menghampiri seorang anak permpuan yang tergeletak berlumuran darah. Korban tabrak lari. Dialah Ify.

Rio sudah memarkirkan motornya. Kini, Ia sedang mencari Ify. Tapi Ia tidak melihat Ify di area toko buku itu. Ia melihat kerumunan orang di jalan raya, tengah menggotong seorang anak ke pinggir jalan. Rio memutuskan untuk melihatnya.

“Permisi, permisi.” Rio mencoba melihat anak yang sedang dikerumuni orang-orang itu. Semakin dekat, semakin jelas pula wajah Ify yang berlumuran darah.

“Ifyyyyy!!!”

*****

“Ku tak akan bisa... Ku tak akan bisa..”

Handphone Alvin kembali berdering. Ia masih tidur juga. Dengan malas, Ia mengangkat telepon itu.

“Hallo?” Ujar Alvin terlebih dahulu.
“Pagi, Alvin. Temenin aku jalan yuk.”
“Hah siapa nih?”
“Lho? Ini Zahra, Alvin.”
“Zahra?”
Alvin kemudian melihat tulisan di layar handphone nya ‘Zahra calling’. Ia yang tadinya masih tiduran, refleks langsung bangun dan duduk diatas tempat tidur.
“Ohh iya Zahra. Kenapa? Maaf aku baru bangun tidur hehe.”
“Dasar, kamu! Temenin ke mall yuk. Pengen shopping deh. Mau ngga?”
“Mau banget. Jam berapa?”
“Aku sih maunya sekarang. Gimana dong?”
“Sekarang? Bisa kok. Yaudah aku mandi, siap-siap dulu deh ya. Nanti langsung kerumah kamu, aku jemput naik motor oke.”
“Oke deh. Makasih yaaa Alvin. Aku tunggu.”

Alvin bangun dan dengan segera melangkah menuju kamar mandi. 10 menit kemudian Ia sudah rapi. Setelah bersiap-siap, Ia menuju ke ruang keluarga, dimana Ayah, Ibu, dan Ka Nova sedang berkumpul.

“Pagi.” Sapa Alvin.
“Heu mentang-mentang hari libur, jam segini baru bangun.” Sindir Ka Nova.
“Biarin ah. Sirik aja.”
“Hush, udah, udah. Kamu mau kemana, Vin? Rapi banget.” Tanya Bunda.
“Temenin Zahra shopping, Bun. Boleh kan?”
“Ya boleh dong. Mumpung hari libur kan.”
“Naik apaan, Vin?” Tanya Ka Nova.
“Motor lo, lah. Pinjem ya, Ka. Thank youuuuu.” Alvin menyambar kunci motor yang ada di meja. Lalu sedikit berlari ke arah luar rumah.
“Ayah, Bunda. Alvin berangkat!” Teriak Alvin dari luar gerbang, Ia sudah standby di motor. Nova? Menggerutu didalam karena motornya digunakan begitu saja.

Alvin memacu motornya secepat mungkin. Benar saja, beberapa menit kemudian, Ia sudah tiba di depan pintu gerbang rumah Zahra. Terlihat Zahra sedang duduk di kursi yang ada di teras sambil membaca novel. Ketika Zahra memandang sesosok laki-laki diatas motor berada didepan rumahnya, Ia segera memasukan novel itu kedalam tas dan menghampiri laki-laki itu. Karena Zahra tau, bahwa itu Alvin.

“Hai, Zahra. Langsung jalan nih?” Ungkap Alvin setelah melepas helmnya.
“Iya, Vin. Ayo.”

Alvin memakai helmnya kembali dan langsung memacu motornya menuju mall terdekat. Ketika sampai, setelah memarkirkan motornya, Ia dan Zahra segera menuju ke sebuah toko baju. Yap, Zahra memang berniat untuk mencari baju.

“Yang warna biru itu lebih bagus deh kayanya.” Komentar Alvin, ketika Zahra mengambil sebuah mini dress berwarna merah.
“Masa? Tapi aku lebih suka sama yang warna merah ini.”
“Yakin? Ya kalau aku sih lebih suka sama yang warna biru itu.”
“Iya, Cak! Yang biru tuh lebih keren! Ngga percaya amat sih!” Suara yang tak asing lagi bagi Alvin dan Zahra membuat mereka mengalihkan pandangan kearah kanan mereka, dimana seorang laki-laki dan perempuan sedang berdebat memilik warna jaket. Mereka Cakka dan Shilla!
“Lho? Cakka? Shilla?” Alvin menatap mereka heran.
“Alvin? Zahra? Cieee berduaan aja nih.” Balas Shilla.
“Hahaha iya nih. Tumben kalian jalan bareng.” Ujar Zahra.
“Tau nih, Zah! Gue dipaksa nemenin Shilla shopping. Terus pas gue naksir jaket, gue maunya warna item. Eh dipaksa lagi sama Shilla suruh beli yang warna biru.” Cerita Cakka.
“Emang bagusan yang biru, Cak! Ngeyel deh!”
“Ihhh, tapi gue maunya yang item, Shillaaaa!”
“Stop! Stop! Aduuh apaan sih, gituan aja diributin!” Alvin berusaha melerai mereka.
“Iya tau nih, berisik tau!” Ungkap Zahra.

Tiba-tiba handphone Alvin berdering, tanda sms masuk.

-From : 9d_Rio-

Vin, Ify kecelakaan! Cepet ke RS Bintang. Kasih tau yang lain.

‘Apaaa? Ify kecelakaan? Gawat!’ Batin Alvin.

“Zahra, yaudah kamu beli aja mini dress nya yang warna merah. Cepetan gih, bayar. Cakka, lo juga cepetan deh bayar mau jaket yang mana!”
“Hah? Emang kenapa, Vin? Kok harus cepet-cepet gitu?” Shilla heran.
“Ify kecelakaan, Shill. Gue barusan di sms Rio. Ayo, habis ini kita ke RS bareng. Gue naik motor sama Zahra, lo sama Cakka terserahlah naik apa yang penting nyampe.”
“Woo tega! Jelas-jelas gue kesini sama supir kok. Yeee.” Protes Cakka.
“Hhhh yaudah Cak, cepetan sana bayar!”
“Iya, iya. Warna item aja aaahhh~” Cakka mengambil jaket warna hitam dan membawanya ke kasir. Zahra juga membawa mini dress merah ke kasir.

Alvin menyempatkan diri untuk sms hal itu kepada Ray dan Sivia.

-To : 9a_Ray-

Ify kecelakaan. Cepet ke RS Bintang.

-To : 9b_Sivia-

Vi, Ify kecelakaan. Cepetan ke RS Bintang, ya.

Cakka dan Zahra sudah membawa tas belanjaan masing-masing. Kemudian, mereka segera menuju parkiran mall. Secepat mungkin mereka beranjak dari mall menuju RS Bintang.

to be continued...

Jumat, 02 Juli 2010

I will keep your promise, Olivia

Sebuah mobil alphard berhenti tepat didepan rumah Ray. Sepasang suami istri memasuki rumah minimalis yang cukup besar, diikuti oleh seorang gadis kecil yang cantik, imut, berambut pendek, dan berkacamata.


Ting tong. terdengar suara bel rumah dibunyikan. Wanita cantik berkerudung membuka pintu untuk mereka.

"Hey, Ira. Akhirnya datang juga kamu. Wah ini yang namanya Olivia ya? Cantik sekali. Sudah besar pula."

Wanita itu adalah ibu Ray. Tamu itu adalah Tante Ira, adik dari Ibu Ray, beserta suami dan sang anak, Olivia. Tante Ira memang asli Indonesia, tapi tinggal di Singapur karena sang suami berasal darisana. Mereka sempat tinggal di Indonesia ketika Olivia masih kecil, sehingga bahasa indonesia mereka lancar.

Olivia hanya tersenyum kecil mendengar pujian dari Ibu Ray.

"Iya nih, mba. Makasih sekali lho, mengizinkan Oliv tinggal disini selama liburan sekolah." Jawab Tante Ira.

"Ya ngga apa-apa, aku malah senang kok ada gadis kecil cantik dirumahku. Nanti Oliv juga bisa bermain sama Ray ya, tapi Ray lagi les drum bentar lagi juga pulang. Oh iya aduh sampai lupa, ayo masuk dulu."

"Ngga usah, mba. Setelah ini kami mau langsung ke airport lagi. Mau ke Kalimantan, ada urusan. Yaudah titip Oliv ya. Ini barang-barang Oliv. Nah Oliv, ibu sama ayah langsung pergi lagi ya. Jangan nakal, nak. Nurut sama Tante ya." Suami dari Tante Ira menyodorkan mini koper kepada Ibu Ray. Oliv tersenyum manis menghadapi perkataan ibunya.

"Yaudah kalau itu mau kamu. Hati-hati di jalan, ya."

Kedua orang tua Olivia meninggalkan rumah itu, kembali ke mobil alphard yang diparkir diluar rumah. Sesaat kemudian, mobil itu melesat jauh menjauhi rumah.

"Nah, ayo masuk Oliv. Jangan sungkan, nanti Oliv main sama Kakak Ray ya. Sekarang Oliv istirahat dulu di kamar, yuk." Ibu Ray menggenggam tangan Olivia menuju kamar. Sedangkan mini koper miliknya telah diangkut oleh pembantu rumah tangga keluarga Ray.



*****

"Ibu, Ray pulang. Ada Alvin juga nih." Ray dan Alvin menghampiri Ibu yang berada di ruang keluarga bersama Olivia.

"Ya ampun, Ray. Ini kan sudah jam 9 malam. Darimana aja kamu? Jadwal les kamu kan cuma sampai jam 5 sore."

"Maaf, bu. Tadi Ray ke rumah Alvin dulu. Terus keasyikan main PS disana hehe. Oh iya Alvin malam ini mau nginep, boleh kan bu?"

"Ya boleh dong. Jangan lupa ajak main sepupu kamu, nih. Namanya Olivia. Dia akan tinggal disini selama liburan."

"Heumm? Sepupu? Olivia? Kok aku ngga kenal, bu?" Ray mengangkat satu alisnya.

"Olivia ini anak kedua dari Tante Ira. Kamu sih dari dulu mainnya sama Rio terus, kakaknya Oliv."

"Oh haha iya, aku inget sekarang. Rio nya ngga sekalian tinggal disini juga?"

"Tadi sih, kata Tante Ira pas telepon, Rio ngga mau. Dia mau liburan di Singapur aja."

"Oh yaudah. Ohya Oliv, salam kenal, aku Ray. Dan ini sahabatku Alvin." Ray berjabat tangan dengan Olivia, begitupun juga dengan Alvin.

"Ray, udah yuk langsung ke kamar kamu aja. Oliv ikut, yuk. Kita main sama-sama." Ajak Alvin, diikuti anggukan dari Ray dan senyuman Olivia.

Semenjak perkenalan di hari itu, Ray dan Alvin menjadi makin dekat dengan Olivia. Apalagi hampir setiap hari Alvin berkunjung ke rumah Ray. Disaat Ray les drum, Alvin yang menemani Olivia bermain.

Tapi kegiatan itu tak berlangsung lama. Hanya 1 minggu. Setelah itu Olivia lebih sering sendiri. Ray benar-benar sibuk dengan les drum nya. Berangkat pagi, pulang malam. Alvin? Ia harus menemani Kakaknya yang sedang dirawat di rumah sakit. Lagipula, Ia juga ada jadwal les vokal dan piano. Ibu Ray dan Ayah Ray punya perusahaan masing-masing, hingga sibuk.

*****

"Ini aja? 1 novel little princess?" Tanya seorang penjaga kasir disebuah toko buku.

"Iya, ini uangnya." Olivia menyerahkan uangnya, beberapa saat kemudian Ia sudah membawa satu kantung plastik berisi novel.

Olivia sedang berada di toko buku. Ia merasa bosan dirumah Ray. Ia pergi kesini naik taksi, padahal supir keluarga Ray telah menawarkan diri untuk mengantarnya. Tapi ia tidak mau.

Kini, Olivia menyusuri jalan menuju pintu keluar toko buku. Lalu menunggu di pinggir jalan untuk menyetop taksi.

"Hello, gadis cantik. Sedang menunggu apa?" Tiba-tiba seorang laki-laki bertubuh tinggi menghampiri Olivia.

"Hemm.. Engga kok, ngga nunggu apa-apa." Olivia terlihat sangat ketakutan. Ia pun menyadari bahwa disekitar sana tak ada orang lain selain dirinya dan laki-laki misterius itu.

"Om itu sahabat ayah Ray. Kamu sepupunya kan? Mampir kerumah om yuk."

Olivia semakin panik. Ia tidak percaya dengan laki-laki itu.

"Engga deh, makasih. Aku mau pulang dulu ya." Olivia mempercepat langkahnya menuju tempat yang agak ramai. Tapi naas baginya, laki-laki tadi malah membekapnya dengan sapu tangan yang sudah diberi obat tidur. Kemudian Ia dibawa ke dalam mobil avanza dan dibawa ke suatu tempat yang tidak pernah diketahui siapapun.



*****

Siang kini berganti malam. Jam dinding di rumah Ray telah menunjukkan pukul 22.30. Ray baru saja tiba dirumah. Dilihatnya ibu dan ayah panik di ruang keluarga. Ia pun menghampiri mereka.

"Malam, bu, yah. Ada apa? Kok panik?"

"Ray! Ya ampun, Olivia belum pulang! Kata supir kita, tadi dia ke toko buku sendirian. Soalnya ngga mau dianterin. Tapi sampai jam segini belum pulang." Jelas ibu.

"Apa? Yaudah aku pergi cari Oliv ya!"

"Tapi kamu kan baru sampai, Ray." Ujar ayah.

"Ngga apa-apa, yah. Yaudah, aku pergi dulu. Pak, ayo antar aku!" Ray berteriak pada supir pribadi keluarganya. Ia segera masuk ke mobilnya, lalu dengan kecepatan tinggi mobil itu melaju menuju toko buku.

Ray dan supirnya bertanya-tanya kepada masyarakat sekitar yang ada di area toko tentang Olivia. Tapi hasilnya nihil. Jam sudah menunjukkan pukul 01.15 dini hari. Tapi Ray belum menghentikan pencarian. Padahal lelah sudah nampak di wajahnya.



"Mas, pulang saja. Ini sudah pagi. Besok kita cari lagi ya." Saran supir Ray.

"Hhhh yaudah deh, Pak."

*****

Ray sama sekali tidak bisa tidur. Ia sangat kepikiran dengan Olivia. Orang tuanya sudah menghubungi polisi, tapi belum ada kabar. Kini pukul 07.30, Ray beranjak dari kamar menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. 10 menit kemudian, Ia kembali ke kamar dan melempar diri ke tempat tidur. Saat mengambil handphone, terlihat dilayar 'one missed call' dari nomor yang tak dikenalnya. Juga ada 1 sms dari nomor yang sama. Ray menekan tombol untuk membaca sms itu.

“Saya yang menculik Olivia. Cepat temukan dia, Ray sebelum pukul 18.00 jika kamu terlambat, jangan harap dapat menemukan dia dalam keadaan bernyawa.”

'APAA?! parah, aku harus cari Oliv sekarang!!'

Ray mengirim sms kepada Alvin, menyuruhnya untuk kerumahnya. Agar dapat bersama-sama mencari Olivia.



To : AlvinJS

Vin, Oliv diculik dan dalam keadaan berbahaya. Kerumahku sekarang, kita cari bareng-bareng.



Sambil menunggu kedatangan Alvin, Ray menyempatkan diri untuk makan. Baru ketika Alvin datang, mereka segera berangkat melakukan pencarian Olivia.

"Ray? Istirahat dulu yuk. Aku pegel duduk terus. Udah jam 13.00, nih. Waktunya makan siang juga." Kata Alvin.

"Apa? Istirahat, vin? Oliv dalam bahaya! 5 jam lagi batas waktu kita!"

"Tapi, Ray wajahmu juga udah pucat banget. Lagian kan ada polisi juga."

"Ini karena aku insomnia semalam. Aku belum tidur sama sekali. Tapi ini demi Oliv! Kita ngga boleh hanya mengandalkan polisi. Ohya itu ada makanan punyaku, kamu makan aja ya aku ngga nafsu."

Alvin mengambil kotak makan yang tergeletak disebelah Ray, lalu memakannya.

"Vin, kamu tunggu sini. Aku mau bertanya pada pelayan cafe kecil itu." Ray menunjuk pada sebuah cafe kecil yang sudah usang, sepertinya agak tidak terurus.

"Yakin kamu? Cafe itu menyeramkan deh."

"Udah, biarin aja."

Ray berjalan memasuki cafe itu. Sepi. Hanya beberapa pengunjung yang datang. Ia menghampiri salah seorang pelayan yang sedang membersihkan meja.

"Permisi."

"Iya? Ada yang bisa saya bantu?"

"Ya, aku sedang mencari sepupuku. Namanya Olivia. Ini fotonya. Pernahkah anda melihat dia?" Ray memperlihatkan foto Olivia.

"Ohh.. Iya. Saya pernah melihatnya."

"Benarkah? tolong jelaskan lebih jelas."

"Waktu itu, saya melihat gadis ini di dalam mobil sendirian. Sedangkan pemilik mobil sedang makan di dalam sambil menelepon. Yang saya dengar dari pembicaraan orang itu di telepon, dia akan tinggal sementara di sebuah gudang tua dekat sini hingga pukul 18.00 bersama gadis itu."

"Apa anda kenal dengan orang itu?"

"Ya, dia seorang guru musik. Dia juga punya sebuah tempat les musik. Namanya Oni."

"Apa? Kak Oni? Ya ampun, dia guru les musik ku! Yaudah terima kasih banyak atas infonya. Aku harus pergi."

Ray keluar dari cafe itu, masuk ke mobilnya kembali.

"Vin, aku dapat info! Pak, cari gudang tua terdekat. Oliv ada disana. Aku akan memberitahu polisi."

"Siapa penculik Oliv, Ray? Siapa?" Tanya Alvin.

"Kak Oni, guru les musik ku. Parah banget kan."



Ray kemudian menelepon polisi dan memberitahukan semuanya. Beberapa saat kemudian, polisi sudah mengepung gedung tua itu. Ketika Ray dan Alvin turun dari mobil, melihat Kak Oni sudah tertangkap oleh polisi. Tapi tak ada Olivia bersama polisi-polisi itu. Ray dan Alvin berlari memasuki gudang tua, satu per satu ruangan dimasukinya. Hingga diruangan paling pojok, mereka melihat polisi sedang membebaskan seorang gadis yang disekap. Ya dialah Olivia.



"Oliv!!" Ray berlari menghampirinya, lalu memeluknya.

"Kak Ray.."



BUG! tubuh Ray ambruk. Ray pingsan. Mukanya sangat sangat pucat.



"Kak Raaay!! Bangun, Ka!!"

*****

"Ini.. Di kamarku kan?" Ray terbangun dari pingsannya.

"Ray. Kamu udah sadar? Iya tadi kamu pingsan. Kamu kecapekan, terus kena gejala maag juga." Alvin yang berada disebelah tempat tidur Ray menjelaskan.

"Hemm gitu. Ohya Oliv mana?"

"Oliv.. Dia.. Udah balik ke Singapur. Yaa sekarang paling masih di airport."

"Hah? Apa? Kok... Kok bisa?"

"Orang tuanya tadi menjemput dia. Mereka sangat khawatir, tapi mereka ngga marah kok."

"Tapi.. Tapi.. Aku belum minta maaf sama dia. Aku terlalu sibuk, sampai ngga bisa menemani dia. Aku... Menyesal." Ray tertunduk.

"Tadi Oliv bisikin aku. Dia bilang, dia sayang sama kamu. Dia janji bakal nemuin kamu lagi suatu hari nanti. Dia minta maaf juga, karena dia, kamu jadi drop gini."

"Ngga, aku yang salah. Aku juga sayang sama Oliv. Tapi gara-gara Kak Oni yang membuat aku sibuk latihan drum, aku jadi ngga ada waktu buat Oliv."

"Oh iya ya. Aku dengar motif Kak Oni menculik Oliv bukan karena harta. Ia benar-benar ingin membuatmu jadi drummer profesional. Tapi akhir-akhir ini konsentrasimu pecah. Ketika tau penyebabnya Oliv, ia langsung menculiknya bahkan benar-benar berniat membunuhnya."

"Wew, sadis ya. Walau tujuan awalnya baik."

"Yaa, that's the fact."

"Well, kalau emang Oliv janji kaya gitu.. I will keep it. I will keep your promise, Liv."



-Tamat-

Senin, 14 Juni 2010

It's our love story | Part 10

Di kamar Alvin

Alvin yang sedaritadi sangat senang, memutuskan untuk memberitahukan hal ini pada Rio. Ia mencari kontak dengan nama Rio, lalu menekan tombol call.

Di Rumah Rio

Acha sedang berada dirumah Rio. Acha dan Ozy sedang menonton dvd yang baru dibeli Rio. Film ‘Christmas Carol’. Bareng Rio juga. Tiba-tiba handphone Rio berbunyi. ‘Alvin?’ Batinnya. Ia pun beranjak dari sofa, menjauhi ruang keluarga dan segera mengangkatnya telepon dari Alvin.

“Iya Vin?”
“Yo! Lo pasti ngga bakal nyangka deh.”
“Apaan?”
“Gue balikan sama Zahra!”
“Serius? Lo balikan sama Zahra, Vin?” Omongan Rio sangat keras, hingga Acha dan Ozy dapat mendengarnya.
“Iya tadi gue nembak Zahra terus langsung diterima.”
“Wahh bagus deh.”
“Yaudah deh, Yo. Gue cuma mau kasih tau itu aja. Bye.”

“Alvin udah berhasil balikan sama Zahra. Kalau gitu, gue juga harus bisa jadian sama Ify. Besok hari libur kan? Gue aja Ify jalan, ah.” Ujar Ify dalam hati. Rio memutuskan untuk sms Ify.

To : Ify (sahabat kecil)
Fy, besok kan libur. Jalan yuk ^^

Tak lama kemudian, sms balasan dari Ify datang.

From : Ify (sahabat kecil)
Boleh deh, gue lagi ngga ada kerjaan nih.

Rio membalas lagi.

To : Ify (sahabat kecil)
Oke deh, besok pagi ketemuan di Our Cafe ya jam 10.

Balasan dari Ify datang lagi

From : Ify (sahabat kecil)
Sip sip

‘Akhirnya jalan juga gue sama Ify!’ dengan gembira, Rio kembali ke ruang keluarga, tempat Acha dan Ozy yang masih asik menonton film. Tampak wajah Acha yang kesal karena mendengar kabar bahwa Alvin balikan dengan Zahra. Ozy masih tidak percaya dengan yang tadi dibilang Rio, dia langsung bertanya.

“Ka. Ka Alvin balikan sama Ka Zahra?” Tanya Ozy.
“Yoi. Asik banget ya.” Telinga Acha terasa panas mendengar itu. Ia putuskan untuk segera pulang. Ia kesal dengan Ozy, karena Ozy bilang Ka Alvin dan Ka Zahra cuma mantanan, tapi sekarang malah balikan.
“Ka Rio, Ozy, Acha pulang ya. Capek.” Acha menuju pintu depan rumah. Rio heran. Ozy menghampiri Acha.
“Kenapa, Cha? Lo sakit?”
“Jangan pura-pura ngga tau deh, Zy!!” Bentak Acha.
“Gue emang ngga tau.”
“Lo bilang Ka Alvin cuma mantanan sama Ka Zahra, kok sekarang bisa balikan?”
“Yahh gue ngga tau, Cha.”
“Lo udah bohongin gue, Zy. Gue ngga mau main sama lo lagi.” Kini Acha benar-benar pulang. Ozy tak mampu menahannya. Ia memutuskan untuk ke kamarnya, melewati Rio yang masih menonton film.
“Acha kenapa, Zy?” Tanya Rio.
“Ini semua gara-gara lo, Ka!! Ngapain lo teriak-teriak ngasih tau Ka Alvin balikan sama Ka Zahra? Udah tau Acha suka sama Ka Alvin! Ngga punya perasaan lo, Ka! Sekarang Acha marah banget sama gue, dia bilang gue pembohong. Puas lo!” Ozy berlari menuju ke kamarnya. Mengunci pintu, sendirian didalam heningnya suasana.
“Zy.. maafin gue.” Rio berteriak dari luar kamar Ozy.
“Udah telat, Ka, permintaan maaf lo!”

Rio merasa sangat bersalah. Tapi tadi Ia benar-benar lupa kalau ada Acha, yang suka dengan Alvin disana. Rio pergi ke ruang keluarga, mematikan dvd player, dan merenungkan perkataan Ozy padanya.

Keesokan harinya

Rio sudah bersiap-siap untuk jalan bersama Ify. Memang, masih ada 1 jam lagi dari waktu yang dijanjikan. Tapi Ia tak mau terlambat dihari penting bagi kelangsungan kisah cintanya itu.

‘Oke, gue udah keren. Baju oke, muka? Pastilah oke banget.’ Rio sedang bercermin di dalam kamarnya.
Rio melihat jam tangan yang melingkar ditangannya, dan masih menunjukkan pukul 09.03.

‘Gue kepagian nih. Oh iya! Gue kan belum ngasih tau Alvin. Telepon, ah!’

“Ku tak akan bisa….” Dering tanda telepon masuk di handphone Alvin berbunyi. Kebetulan, Alvin masih tidur. Dengan mata yang masih tertutup, dan jiwa yang masih melayang, Alvin meraba-raba letak handphone nya yang tergeletak di tempat tidur. Lalu mengangkatnya tanpa melihat nama si penelepon.

“Hallo.” Kata Alvin, masih dengan mata tertutup.
“Hey, Vin! Denger deh, gue punya kabar yang bagus!”
“Hah, kabar apa, Ray? Lo udah baikan sama Sivia? Wah bagus deh kalau gitu.”
“Ray? Sivia? Apaan sih, Vin! Gue Rio! Sadar dong, aduuuhh.”
“Rio? Rio siapa? Gue ngga pernah punya temen yang namanya Rio ah.”
“Vin? Mario Stevano yang ganteng itu, lho.”
“Mario? Ganteng? Yailah masih gantengan Alvin Jonathan, lah!”
“ALVIIIINNNNNN!!!” Rio berteriak di telepon. Seketika itu Alvin sadar.
“Hah, Rio? Ngapain sih lo telepon gue main teriak-teriak aja!”
“Sabar, Yo. Sabar…”
“Apaan sih, sabar-sabar?”
“Heh, lo ya! Tadi lo bilang gue Ray! Terus malah numpang narsis! Bad mood duluan deh gue belom cerita ke lo.”
“Sorry, Yo. Gue tadi masih tidur. Hehe Rio sayaaaangg maafin ya.”
“Huhu Alvin ngeselin. Rio males sama Alvin ah!”
“Yah, sayang kok ngambek gitu sih?”
“Kamu duluan yang bikin aku ngambek, Yang.”
“Yaudah maafin yaaa.”
“Hhhh oke deh Alvin sayang. Udah ah, gue masih normal, Vin!”
“Iya ilah, gue juga udah punya cewe kali, mana demen sama lo. Bercanda doang. Terus mau cerita apaan?”
“Oke, oke. Nih ya, Vin. Gue berhasil ngajak Ify jalan!”
“Serius? Wahhh selamat yaaa, Yo.”
“Makasih, Vin. Tapi lo ngga cemburu kan?”
“Cemburu? Gue kan udah punya Zahra. Ngapain cemburu.”
“Oh gitu yaudah deh, Vin. Gitu aja kok.”
“Yaudah gih, gue mau tidur lagi. Byeee.”

Alvin memutus teleponnya terlebih dahulu. Dan langsung terlelap lagi. Sedangkan Rio? Lagi marah-marah, karena teleponnya langsung diputus sama Alvin.

‘Jam berapa nih? Ya ampun udah jam 09.30! berangkat deh!’

Rio keluar dari kamarnya, menuruni tangga rumahnya menuju ke lantai dasar. Kedua orang tua Rio sedang pergi, jadi rumah sangat sepi. Ozy masih mengurung diri di dalam kamar. Rio ke kamar Ozy dahulu, yang terletak di lantai dasar. Rio pun mengetuk pintu kamar Ozy, tapi tak ada jawaban.

“Ozy.. Jangan di kamar terus dong.” Teriak Rio yang berada di depan pintu kamar Ozy.
“Zy.. Jangan marah lagi, ya. Maafin gue.”
“Zy? Gue boleh usul ngga? Lo mending ke rumah Acha deh. Lo jelasin semuanya. Tentang perasaan lo ke dia. Sampein permintaan maaf gue juga ya, Zy.”

Masih tidak ada jawaban. Rio pikir, Ozy masih tidur. Padahal Ozy sudah bangun, tapi sedang tiduran di tempat tidur.

“Gue berangkat, Zy.” Rio keluar dari rumahnya dengan membawa kunci motor di tangannya.

Terdengar suara mesin motor dinyalakan. Samar-samar, suara itu menghilang dan terus menghilang hingga tak terdengar lagi. Sang pemilik motor kini telah pergi menuju ke tempat janjian. Sedangkan Ozy masih tiduran dikamarnya. Memikirkan Acha yang kini marah padanya, perasaannya pada Acha yang makin terpendam, dan Rio, kakaknya yang merasa bersalah.

‘Bener kata Ka Rio, gue harus jelasin semuanya ke Acha!’

Ozy lalu memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi. Bersiap-siap menuju rumah Acha.


*****

‘Ify.. mana ya? Nah itu dia!’ Rio menghampiri Ify yang sedang duduk, sedaritadi hanya melirik kearah jam ditangannya.
“Hey, Fy. Maaf ya gue telat.” Rio duduk dihadapan Ify.
“Ngga, kok. Gue juga baru aja dateng.”
“Oh hehe yaudah pesen makanan dulu deh. Biar enak ngobrolnya. Habis ini, kita jalan ke tempat lain ya.”
“Kemana?”
“Lo maunya kemana?” Rio balik bertanya.
“Sebenenya sih gue mau cari novel, Yo. Hehe.”
“Boleehhh, sip habis ini ke toko buku ya.”

It's our love story | Part 9

Alvin melangkah perlahan memasuki rumahnya, menghampiri sosok yang tidak dikenalnya yang sedang bersama Ibunya dan Ka Nova. Ka Nova menyadari kehadiran Alvin dan segera memandang ke arah Alvin.

“Alvin? Udah pulang?” Tanya Ka Nova lembut.
“Hemm udah, Ka.” Alvin masih terheran dengan sesosok yang sedang duduk di sofa ruang keluarga, diantara Ibunya dan Ka Nova. Tiba-tiba sesosok itu berbalik dan menatap Alvin. Betapa terkejutnya bahwa itu adalah Ayah Alvin.
“Alvin! Sini gabung!” Ajak Ayah Alvin. Alvin bengong.
“Vin, sini nak gabung.” Kali ini Ibu Alvin juga mengajaknya.
“Oh iya iya.” Alvin menghampiri mereka dan duduk disebelah Ka Nova.
“Vin, nanti malem Ayah mau ajak kita makan malem bareng, lho. Udah lama kan kita ngga kaya gini.” Ujar Ka Nova. Alvin masih bingung.
“Hah? Apaan sih, Ka. Gue ngga ngerti. Kenapa tau-tau keadaan keluarga kita jadi kaya gini?”
“Hahaha Alvin, Alvin. Ayah udah berusaha mengubah sikap Ayah, tapi kamu malah ngomong gitu. Kamu mau ayah yang dulu?”
“Engga! Ampuuuunnnn.” Alvin memohon manja.
“Ayah sudah sadar, Ayah punya keluarga yang sangat berarti, yang ngga boleh disia-siakan. Ayah ingin jadi bagian keluarga ini kaya dulu lagi. Ayah janji bakal jadi Ayah yang paling baik di dunia. Maafin Ayah ya, Vin. Ayah paling banyak salah sama kamu.” Ayah Alvin menunduk. Alvin tersentuh, berdiri dari tempat duduknya dan berlutut didepan Ayahnya.
“Ngga apa-apa, yah. Ngga perlu minta maaf. Kejadian yang sudah lewat, biarin aja. Yang penting kita mulai dari awal lagi, ya.” Alvin tersenyum.
“Makasih Alvin.” Ayah Alvin memeluk Alvin erat. Hangat. Sudah lama Alvin mendambakan sebuah pelukan tulus dari sang ayah tersayang. Ka Nova dan Ibu hanya memandang dengan tatapan terharu.
“Yah?” Alvin melepas pelukannya.
“Iya, Alvin?”
“Makan malam barengnya nanti ya?”
“Iya. Ada masalah?”
“Hmmm Alvin boleh ajak temen Alvin ngga? Besok kan hari libur.”
“Tentu. Emang kamu mau ajak siapa?”
“Namanya Zahra. Anaknya lembut, sopan, cantik lagi.” Ungkap Alvin malu.
“Boleh, boleh. Jam 7 ya.”
“Oke, makasih Ayaaahhh. Alvin mau telepon Zahra dulu. ” Alvin melangkah menjauhi ruang keluarga, menuju teras rumahnya. Mencari-cari nama Zahra dalam kontak handphone nya dan langsung menekan tombol ‘calling’.

“Hallo, Vin.” Terdengar suara Zahra.
“Hey, Zahra.”
“Tumben nih telepon. Kenapa?”
“Nanti malem lo ada acara ngga?”
“Hmmm engga tuh.”
“Bagus kalo gitu!”
“Apanya yang bagus?”
“Gini, ayah gue ngajakin makan malem bareng keluarga. Dan gue mau lo dateng.”
“Gue? Itukan makan malem lo sama keluarga lo, Vin. Ngapain ajak-ajak gue?”
“Kata Ayah gue boleh bawa temen kok. Yayaya please, Zah.”
“Yaudah deh. Gue juga bosen dirumah.”
“Yeay makasih Zahra. Gue jemput jam 18.50 yaa. Bye.”
“Bye, Vin.”

‘Asik Zahra mau dateng!’ ujar Alvin dalam hati. ‘Wait, kenapa gue berinisiatif buat undang Zahra? Kenapa gue ngga undang yang lain aja? Aduhh gue kok jadi aneh gini. Apa gue suka sama Zahra? Engga, engga Zahra kan cuma masa lalu gue.’ Alvin garuk-garuk kepala. Ia heran dengan perasaannya sendiri. Ia pun memutuskan untuk kembali ke ruang keluarga.

Di rumah Sivia

Seusai sekolah, Sivia selalu murung. Tidak ada senyum dibibirnya. Bahkan, jika diperhatikan, butiran air mata Sivia jatuh sedikit demi sedikit. Ya, Ray lah jawabannya. Sivia memang kesal dengan Ray, tapi itu membuatnya sedih. Masih ada rasa sayang dihatinya. Tapi 80% keyakinannya menginginkan mereka untuk putus. ‘Ya, gue harus putus. Gue ngga mau terus-terusan kaya gini.’ Batin Sivia. Sivia segera mengambil handphone nya yang tergeletak di meja dan mulai mengetik pesan singkat untuk Ray.

To : ♥Ray
Ray, aku mau kita putus.

Ray yang sedang ketawa-tawa baca komik sambil tiduran di tempat tidur, kaget seketika. Nafasnya terasa sesak, pikirannya kacau. Ia memutuskan untuk menelepon Sivia. Awalnya Sivia ngga mau angkat, tapi dia putuskan untuk mengangkatnya.

“Hallo, Vi.” Ray mulai berbicara.
“Hemm..”
“Itu sms kamu yang tadi bercanda kan?”
“Seriuslah, ngapain aku bercanda.”
“Tapi ending nya ngga bisa kaya gini dong, Vi. Ini semua cuma masalah kecil dan masih bisa kita bicarain baik-baik.”
“Tapi aku udah ngga sanggup, Ray. Aku udah terlanjur kesel. Kalau kita putus, kamu bisa kan jadian sama Dea itu.”
“Apaan sih, Vi. Udah aku bilang Dea cuma temen aku. Dan aku sukanya sama kamu!”
“Kamu terlalu lemah! Kalau emang kaya gitu, harusnya kamu samperin Dea, suruh dia telepon aku minta maaf atas semua ini. Tapi kenyataannya apa? Kamu ngga berusaha membuat Dea minta maaf kan? Cowo macam apa kaya gitu.”
“Maaf, Vi. Maaf. Aku belum sempet. Lagipula ini terlalu cepat kalau kita putus sekarang.”
“Kamu ngga ngertiin keadaan aku sekarang Ray! Hiks..” Isakan Sivia mulai terdengar.
“Via? Jangan nangis dong. Kita omongin pelan-pelan ya dari awal. Aku masih sayang sama kamu, aku ngga mau lepasin kamu, Vi.”
“Ngga! Kamu munafik!”
“Terserah kamu mau ngatain aku apa, Vi. Kasih aku kesempatan ya buat nyari jalan dari masalah ini. Please, Vi. Tarik kata-kata putus tadi.”
“Whatever. Aku ngga peduli. Walau kita belum putus, tapi aku marah banget sama kamu!!” Sivia memutus sambungan telepon nya. Ray menjadi sangat lemas. Bingung. Padahal hanya masalah seperti itu saja, Sivia sampai marah kaya gitu.

*****

Zahra sedang bingung memilih pakaian yang akan Ia kenakan untuk makan malam bersama keluarga Alvin di kamarnya. Alvin menjemput dia setengah jam lagi tapi Ia belum bersiap. ‘Hemm udahlah ngga usah formal-formal. Kemeja sama jeans cukup kan?’ Ya, itulah keputusan Zahra. Mengenakan kemeja berwarna ungu dengan jeans hitam. Rambutnya dibiarkan terurai. Zahra sudah siap sekarang. ‘Waduh udah jam segini. Cepet-cepet turun deh.’ Zahra melangkah keluar kamarnya, menuruni tangga dan menuju ruang keluarga. Menunggu Alvin. Disana ada mamanya yang sedang membaca majalah.
“Zahra? Kamu rapi sekali. Mau pergi?”
“Iya, Ma. Alvin ngajakin aku makan malam bareng keluarganya. Boleh kan ya, Ma?”
“Alvin? Mama ngga tau ah kamu punya teman yang namanya Alvin.” Alvin dan Zahra memang pernah pacaran dulu, tapi backstreet. Kedua orang tua mereka tidak ada yang mengetahui itu. Dan itupun hanya bertahan 7 bulan.
“Alvin anak kelas 9b, Ma. Nanti mama ketemu aja, dia mau jemput aku. Oh itu kayanya dia udah dateng.”

Terdengan suara motor berhenti tepat didepan rumah Zahra. Zahra dan Mama nya segera menghampiri. Alvin melepas helm nya dan turun dari motor. Masuk kerumah Zahra yang pintu gerbangnya sudah dibuka kan oleh satpam. Alvin tersenyum melihat Zahra yang berpenampilan sangat cantik malam ini. Saai itulah, Ia merasa jantungnya berdetak kencang, apalagi ketika Zahra membalas senyumannya.

“Malam, Tante.” Alvin menyalami Mamanya Zahra.
“Malam. Kamu.... yang namanya Alvin?”
“Benar, Tante. Alvin mau ajak Zahra ikut makan malam dirumah Alvin. Boleh ngga, Tan?”
“Tentu. Zahra juga udah siap kok.”
“Yaudah kami berangkat ya, Tan.”
“Zahra berangkat, Ma.”
“Hati-hati. Bawa motornya jangan ngebut, Vin.”
“Siap, Tante.” Alvin tersenyum ramah.

Alvin dan Zahra menuju motor Alvin (motor Ka Nova, sih) yang diparkirkan didepan gerbang yang terbuka. Mereka menaiki motor itu dan langsung melesat kerumah Alvin. 10 menit kemudian mereka sudah sampai dirumah Alvin. Setelah meletakkan helm dan memarkirkan motor, Alvin dan Zahra masuk kedalam rumah. Ayah dan Ibu Alvin serta Ka Nova sudah menanti mereka.

“Permisi. Selamat malam.” Ujar Zahra sopan.
“Malam Zahra.” Ibu Alvin tersenyum pada Zahra.
“Zah, duduk disini ya.” Alvin menarik kursi untuk Zahra. Kemudian Alvin duduk disebelah Zahra.
“Baru kali ini lo bawa cewe kesini, Vin, Vin.” Goda Ka Nova.
“Apa sih, Ka. Diem deh.”
“Ihh Alvin jadi lembut. Haha cie jaim.”
“Ka, please dong. Ohya Zahra ini kaka gue. Ka Nova.”
“Hahaha oke oke, Vin. Hello Zahra.”
“Hello Ka Nova.” Sapa Zahra balik.

Mereka makan malam sambil berbincang, sesekali tertawa. Malam yang menyenangkan bagi Zahra. Pengalaman, makan bareng keluarga Alvin. Seusai makan, Zahra bersiap-siap untuk pulang.

“Om, Tante, Ka Nova, Alvin. Makasih buat malam ini. Kalau gitu Zahra pamit pulang, ya.”
“Makasih juga, Zahra udah mau dateng. Suasananya jadi makin menyenangkan.” Ujar Ayah Alvin.
“Yasudah, Zahra permisi ya.”
“Zahra, tunggu. Biar gue anter pulang.” Tawar Alvin.
“Ngga usah, Vin makasih. Udah malem, masa malah ngerepotin lo.”
“Justru karena udah malem, gue takut lo kenapa-kenapa. Udah, Yuk.” Alvin mengenggam tangan Zahra menuju motornya. Zahra merasa gugup.

Sesampainya dirumah Zahra

“Thanks for today, Vin. Mampir dulu, yuk.”
“Sama-sama, Zahra. Engga deh, langsung balik aja ya gue.”
“Please, Vin. Kita ngobrol-ngobrol dulu.” Zahra memohon.
“Hemm yaudah deh.” Alvin turun dari motor dan mengikuti Zahra yang duduk di kursi di teras rumahnya.
“Zahra. Boleh jujur ngga?” Alvin memulai pembicaraan.
“Boleh, kok. Apa?”
“Lo cantik banget malam ini.” Ujar Alvin malu.
“Ahh Alvin apaan sih, biasa aja tau.” Zahra tak kalah malunya.
“Beneran deh, Lo bisa buat cowo-cowo yang ngeliat lo suka sama lo, tau.”
“Ngga gitu juga kali, Vin.”
“Yee beneran tau.”
“Contohnya siapa?”
“Gue.”
“Lo?”
“Hah? Lho tadi gue ngomong apa sih, sorry sorry.” Alvin kelabakan.
“Tadi lo ngomong kalau lo salah satu dari cowo-cowo yang suka sama gue. Iya ngga? Haha.” Ledek Zahra.
“Tapi kalo boleh jujur lagi.. boleh ngga?”
“Ya boleh lah.”
“Kalau boleh jujur, gue emang suka sama lo, Zah.”
“Dulu kan?”
“Ya sekarang lah. Malam ini, gue rasa gue suka sama seorang Zahra Damariva. Dan gue cuma bisa berharap, dia mau nerima gue kaya dulu lagi. Melanjutkan hubungan yang sempat terputus.”
Zahra diam. Alvin melanjutkan pembicaraannya sambil menatap Zahra.
“Lo mau jadi cewe gue lagi, Zah? Gue butuh lo.” Ungkap Alvin. Zahra belum berani menatap Alvin. Zahra hanya memandang kearah taman rumahnya.
“Ngga mau yah? Yahhh yaudah ngga apa-apa kok.” Alvin mengalihkan pandangannya dari arah Zahra, kearah depan.
“Siapa bilang? Gue mau kok.” Kini Zahra menatap Alvin.
“Beneran?”
“Iya, Alvin.”
“Jadi.. Kita balikan, Zah?”
“Iyaaa sayang.” Zahra mencubit pipi Alvin dengan gemas.
“Makasih, Zahra.” Ungkap Alvin senang.
“Makasih kembali.”
“Yaudah aku balik dulu yaaa Zahra. Good night.” Ujar Alvin manja.
“Night, Vin.”

Alvin menuju ke motornya, memakai helm dan menaiki motornya. Setelah tersenyum pada Zahra, Ia langsung pulang. Zahra membalas senyum Alvin, lalu memasuki rumahnya. Ke kamarnya. Sulit dipercaya, cowo yang pernah menjadi miliknya, kini menjadi miliknya kembali. Betapa senangnya Zahra.

Minggu, 30 Mei 2010

It's our love story | Part 8

Berjanjilah wahai sahabatku

Bila kau tinggalkan aku

Tetaplah terseyum

Meski hati

Sedih dan menangis

Kuingin kau tetap tabah menghadapinya

Rio sedang bernyanyi sambil memainkan gitarnya. Bersandar pada bantal yang ditegakkan dipinggir kasurnya di kamarnya. Merenungi kata-kata Shilla. ’Kayanya emang udah sebaiknya gue baikan sama Alvin deh.’ Ujarnya dalam hati. Tiba-tiba, Ozy masuk ke kamarnya.

”Ka Rio? Gue boleh masuk yah ka.”

”Silakan, Zy.” Ozy segera naik ke atas kasur, duduk disebelah Rio.

”Ka, gue mau nanya.”

”Apa?” Rio masih memainkan gitarnya.

”Ka Alvin sama Ka Zahra punya hubungan apa sih?”

”Hah? Ngapain nanya gitu? Jangan bilang lo naksir Zahra, Zy!”

”Enggalah, Ka. Bukan gue, tapi kayanya Acha deh.”

”Acha naksir Zahra? Yang bener aja lo!” Rio kaget dan meletakkan gitar disebelahnya.

”Acha naksir Ka Alvin, bukan Ka Zahra nya! Aduhhh.”

”Oh iya bener bener. Sorry gue lagi ada pikiran.”

”Terus mereka ada hubungan apa, Ka?”

”Cuma mantanan aja kok. Hemm.. Acha yang suka Alvin kenapa lo yang ribet, Zy?”

”Ngga kok, ngga apa-apa. Tadi gue kasihan, Acha jelaous liat Ka Alvin berduaan sama Ka Zahra.”

”Kapan?”

”Pas istirahat.”

”Hemm pantes si Zahra tadi ngilang pas istirahat! Taunya berduaan sama Alvin!”

”Menurut Kaka, ada ngga kesempatan Acha buat jadian sama Ka Alvin?”

”Wah, ngga tau gue, Zy. Emang kenapa sih? Kok lo pengen banget Acha sama Alvin.”

”Selama gue temenan sama Acha, gue cuma jadi temen curhat Acha aja, Ka. Jujur, gue nyimpen rasa sama Acha dari dulu, tapi cuma gue pendam. Gue cuma bisa jadi sebatas sahabat aja. Makanya gue mau semua yang terbaik buat Acha.”

”Zy... Lo terlalu baik. Lo harus nyoba dapetin Acha!” Rio memandang Ozy, adik satu-satunya itu.

”Ngga bisa, Ka..” Ozy murung.

”Gue support lo banget. Kalo lo mau, Alvin pasti ngga mungkin sama Acha gitu aja.”

”Makasih Ka. Ngga salah gue cerita sama lo.” Ozy tersenyum.

”Sama-sama, Zy. Udah jarang lo ngga cerita sama gue lagi.”

Keesokan harinya saat jam istirahat. Rio dan Cakka sudah janjian didepan kelas Alvin untuk meminta maaf padanya. Shilla juga tau, dan sangat mendukung mereka. Tapi, setelah lama berdiri di depan pintu kelas Alvin, mereka belum meminta maaf juga.

”Yo, udah lo duluan sana!” Cakka mendorong punggung Rio.

”Ihh ngga deh, Cak. Lo aja, gue belom siap.”

”Aduh, Rio. Udah deh ah cepetan!”

Tiba-tiba Ify yang baru datang dari ruang guru, melihat tingkah aneh Rio dan Cakka. Ia pun menegurnya.

”Rio? Cakka? Ngapain didepan pintu kelas orang?” Ify heran.

”Ini, Fy. Rio ada perlu sama Alvin!” Jawab Cakka spontan.

”Hah? Apaan sih lo, Cak!!” Rio menyikut Cakka.

”Udah diem aja lo!”

”Yaelah, tuh Alvin nya ada di dalem. Masuk aja, lagi.” Ify menunjuk Alvin yang sedang membaca komik di mejanya. Rio dan Cakka saling memandang satu sama lain.

”Vin! Dicariin Rio sama Cakka nih!!” Tanpa pikir panjang, Ify memanggil Alvin. Alvin bingung. Terpaksa Rio dan Cakka menghampiri Alvin. Ify duduk di tempat duduknya.

”Ada apa?’ Tanya Alvin.

”Hemm.. gini, Vin. Gue sama Rio mau minta..” Omongan Cakka terhenti.

”Minta apa?”

”Aduh, lo aja deh, Yo!”

”Haahh? Engga mau ah, lo aj..” Omongan Rio juga terhenti ketika melihat mata Cakka melotot padanya.

”Apaan sih?” Alvin heran.

”Alvin. Lo itu sebenernya sahabat gue dari dulu. Dan jujur gue nyesel banget marahan sama lo. Gue mau minta maaf, Vin..” Rio memohon.

”Gue yang buat Rio jadi kaya gini. Karena itu gue juga mau minta maaf ya, Vin.” Cakka menambahkan. Alvin tersenyum.

”Ngga, gue yang salah. Gue udah bohongin sahabat gue sendiri. Dan gue udah mandang yang ngga bener tentang Cakka. Sorry.”

”Yailah, Vin! Jangan minta maaf balik dong! Udah susah nih ngomong maaf nya gue!” Rio memukul pundak Alvin.

”Hahaha udahlah yang penting kita bertiga udah baikan, kan?” Kata Cakka.

”Iya dong.” Alvin tertawa.

”Kantin, yuk! Laper gue.” Ajak Rio. Mereka bertiga pun pergi menuju ke kantin. Saat melewati kelas 9c, ada Zahra dan Shilla.

”Waaahh, udah akur nih?” Kata Shilla. Alvin, Rio, dan Cakka hanya tertawa.

”Zahra. Gue bawa motor Kaka gue nih, nanti gue anter lo pulang ya.” Kata Alvin tiba-tiba.

”Cie.. ada apa ini? Tanda-tanda mau balikan. Haha.” Goda Rio.

”Apaan sih, Yo. Oh oke deh, Vin.” Zahra tersipu malu. Alvin, Rio, dan Cakka melanjutkan perjalanan ke kantin. (emang kantin sejauh apa sih -_-)

Di kelas 8b

”Achaaa.. kok masih murung, sih?” Ozy menghampiri Acha yang sedang bersedih di tempat duduknya.

”Heemmm..”

”Ka Alvin sama Ka Zahra cuma mantanan aja, kok.”

’”Iya? Wah lega gue kalo gitu.” Acha keceplosan.

”Ciee Acha suka sama Ka Alvin.” Ledek Ozy.

”Apa sih, Zy!”

”Gue udah bisa nebak, Cha. Sejak kapan?”

”Kapan ya? Mungkin sejak Ka Alvin nyelamatin gue waktu digodain Ka Rio kali ya.”

”Asik deh, yaudah good luck ya dapetin Ka Alvin.”

”Ihh.. Ozy apaan sih..” Wajah Acha memerah.

’Ngga bisa, Ka. Gue ngga bisa dapetin Acha kalau gini keadaannya.’ Kata Ozy dalam hati, mengingat perkataan Ka Rio semalam.

Di Kantin

”Cappucino lo enak, Cak. Mimta lagi ya.” Rio menyambar gelas berisi capuccino milik Cakka, tapi segera diambil kembali oleh Cakka.

”Isshh, enak aja! Beli sendiri!”

Tiba-tiba Ray dan Sivia datang. Tepat di depan meja kantin tempat Alvin, Cakka, dan Rio, mereka berhenti. Terjadi pertengkaran diantara mereka. Untung kantin lagi sepi.

”Vi. Ngertiin aku, dong. Dea itu cuma temen aku aja.”

”Mana ada temen yang segitu tega nya ngaku-ngaku pacar kamu ke aku!” Sivia melipat kedua tangannya di dada.

”Aku juga ngga tau, Dea segitu jahatnya sama aku, Vi.”

”Ah udahlah, Ray. Kalau kamu udah bosen dan emang udah mau putus sama aku, ngga gini caranya!” Sivia berlari meninggalkan Ray. Tapi Ray tak mengejarnya. Alvin, Rio, dan Cakka bengong melihat kelakuan pasangan itu.

”Ray? Duduk sini aja, Ray!” Panggil Alvin. Ray kemudian duduk dihadapan mereka.

”Hufftt..” Ray terlihat sedih.

”Kenapa lo sama Sivia?” Tanya Cakka.

”Berantem.” Jawab Ray singkat.

”Kita juga tau kalau itu. Kronologisnya gimama?” Kata Rio.

”Semalem, Dea, temen gue kerumah. Ya dia emang udah suka sama gue dari lama. Tapi baru kali ini dia segitu jahatnya. Pas gue lagi di kamar mandi, dia pake hp gue buat sms Via. Isinya ’Dea Christa Amanda telah menjadi pacar Ray detik ini.” Via kan sensi tuh, yaudah dia langsung percaya terus sms balik isinya marah-marah.”

”Oooohhhh.” Kata mereka berbarengan.

”Sabar ya, Ray. Kita cuma bisa doain semoga masalahnya cepet selesai deh.” Kata Alvin.

”Doa doang? Ah mending gue curhat ke Iel aja, ah!” Ray beranjak dari tempat duduknya. Sementara Alvin, Rio, dan Cakka hanya geleng-geleng kepala.

Sivia yang tadi berlari meninggalkan Ray ternyata sekarang berada di kelas Ify. Menceritakan semua masalah yang sedang dialaminya kepada Ify.

”Ya ampun, Vi. Udah dong, jangan sedih lagi. Itu kan cuma perbuatan iseng fans Ray.”

”Iya gue juga mikir gitu. Tapi gue udah terlanjur kesel, Fy. Apalagi Ray itu ngga pernah tegas sama cewe. Itu yang ngga gue suka dari dia.”

”Via.. Jangan kaya gitu dong. Itu kan udah kekurangannya Ray.”

”Tau deh, gue udah males sama Ray!!”

Sedangkan Ray yang tadi ingin curhat sama Iel, sudah berada di kelas 9a. Disana, Iel sedang mendengarkan lagu pake handsfree.

”Iel!” Ray menepuk pundak Iel. Iel melepas handsfree yang sedang Ia pakai.

”Eh, Ray. Gimana udah baikan sama Via?”

”Belum. Masih marah sama gue, dia.” Ujar Ray murung.

”Coba lagi besok. Mungkin Via lagi sensi.”

”Oke. Lo emang paling bener kalau ngasih saran!”

”Hehe iya dong. Udah ah, lagi dengerin lagu nih.”

”Mau dong!” Ray memasang handsfree pada telinga kirinya.

*Sepulang sekolah

Inget kan tadi Alvin ngajak Zahra pulang bareng? Yup sekarang Alvin udah nungguin Zahra di depan kelas 9c. Kelasnya Alvin udah bubar duluan, karena tadi ngga ada guru pas jam terakhir. Satu persatu anak 9c keluar dari ruang kelasnya. Ada Cakka, Patton, Kiki, Gita, Olivia, Angel, lalu Shilla dan Zahra.

”Zahra!” Panggil Alvin.

”Waduh Zahra udah ada yang nungguin. Yaudah gue balik duluan ya. Bye.” Shilla melambaikan tangan pada Alvin dan Zahra.

”Yuk. Langsung pulang?” Tanya Alvin.

”Ke perpus dulu deh, Vin. Buku pengetahuan yang gue pinjem ini udah harus dibalikin hari ini.”

”Oke oke. Kemanapun yang lo mau, pasti gue anterin.” Zahra hanya bisa geleng-geleng kepala.

Zahra memasuki perpustakaan sendirian. Alvin menunggu diluar, dengan alasan malas membuka sepatunya. Iya juga sih. Alvin duduk di kursi didepan perpustakaan. Tak lama kemudian, Zahra keluar dari perpustakaan. Mengambil sepatu dan duduk di sebelah Alvin. Sambil memakai sepatunya, Zahra mengajak ngorol Alvin.

”Vin.”

”Iya?”

”Kok tumben lo ngajak gue pulang bareng lo?”

”Kan gue lagi bawa motornya Ka Nova. Orangnya lagi dirumah, lagi libur kuliah.”

”Kenapa harus gue?”

”Karena Rio pasti sama Cakka dkk. Ray sama Iel. Ify sama Sivia. Kenapa? Lo ngga mau pulang sama gue?”

”Engga kok. Mau-mau aja gue.”

”Bagus deh. Udah yuk.”

Mereka berjalan menuju ke parkiran motor. Setelah menyalakan motor ’Ka Nova’ itu, Zahra naik. Kemudian melesat jauh menjauhi gedung sekolah SMP 6288. Hening di perjalanan. Susah ngobrolnya, Alvin kan pakai helm soalnya. 30 menit kemudian mereka tiba dirumah Zahra.

”Thanks, Vin. Mampir dulu yuk.” Ajak Zahra.

”Ngga deh, Makasih. Salam aja buat keluarga lo, ya.” Alvin membuka helmnya.

”Yaudah gue balik ya.” Alvin memakai helmnya kembali. Segera pergi dari rumah Zahra, menuju rumahnya. Cuma 10 menit dari rumah Zahra ke rumah Alvin.

Alvin heran mendapati pintu gerbang rumahnya terbuka. Sepertinya Mas Oni (supir Alvin) baru memarkirkan mobil keluarganya itu. Alvin segera memarkirkan motor Kaka nya itu, dan melepaskan helm yang dikenakannya. Ia memasuki ruang tamu rumahnya dan terkejut melihat seseorang sedang bersama Ka Nova dan Ibunya. Sosok dari belakang itu tak dikenalinya. ’Itu siapa sih?’ batinnya.


to be continued...

It's our love story | Part 7

”Alvin Jonathan Sindunata. Bisa bantu gue?”

”Zahra? Kenapa?”

”Ngga, gue lagi ngga ada temen aja, Vin. Gue bingung mau kemana. Makanya gue nyamperin lo aja.”

”Tumben lo ngga bareng Shilla.”

”Gue berantem sama Shilla.”

”Serius?”

”Iya. Habis Shilla punya rencana jahat terus akhir-akhir ini. Males gue.”

”Oh yaudah. Kalo lo lagi ngga ada temen sama sekali, lo boleh ke tempat gue kapan aja.”

”Wah, makasih, Vin. Lo emang baik banget dari dulu.”

”Ngga usah inget masa lalu, Zah.”

”Oh maaf, Vin.” Zahra tertunduk.

”Haha jangan merasa bersalah gitu dong. Ngga segitunya kok.” Alvin mengacak-acak rambut Zahra. Zahra tersenyum.

Di kelas 9c

”Hah masa sih Rio kaya gitu?” Ujar Gita tak percaya.

”Beneran deh.” Shilla meyakinkan.

”Ngga nyangka banget, Rio suka mainin cewe.” Kata Olivia.

”Iya, gue juga awalnya ngga nyangka. Tapi kata Shilla gitu.” Angel menambahkan.

”Udah deh, buang jauh-jauh pikiran kalian tentang Rio yang baik, oke.” Shilla menyarankan.

’Heh, cewe manja! Ngapain lo nyebarin kabar yang ngga bener tentang gue?” Rio tiba-tiba datang bersama Cakka.

”Kabar ngga bener? Itu fakta kali, Yo.” Bela Shilla.

”Fakta apaanya! Oke, gue kasih tau sekali lagi ya di depan temen-temen lo ini. Gue ngga pernah jadian sama lo! Suka aja engga! Dan gue ngga pernah mainin cewe! Inget itu!” Rio membentak.

”Lho? Jadi semua yang dibilang Shilla itu bohong?” Kata Angel.

”Iyalah! Omongan dia tuh jangan dipercaya!”

”Apaan sih lo, Yo, main ngomong kaya gitu.” Olivia membela Shilla.

”Gue bisa lebih marah dari ini, Shill, kalau lo ngga mau bilang yang sebenarnya!” ancam Rio.

”Oke, oke! Gue udah bohong sama kalian semua! Puas kan lo, Yo! Sekarang gue ga bakal punya temen lagi kalau udah gini keadaannya!” Shilla menangis dan pergi meninggalkan kelas 9c sambil berlari.

”Rio! Omongan lo tadi tuh kasar banget tau! Pikirin perasaan Shilla juga dong!” Cakka membentak kembali Rio dan kemudian pergi mengejar Shilla. Rio heran dengan kelakuan Cakka.

Cakka mendapati Shilla sedang menangis di kursi, di taman belakang. Ia pun menghampirinya dan duduk disebelahnya.

”Shilla.”

”Cakka!” Shilla memandang Cakka yang tiba-tiba ada disebelahnya.

”Ngga usah dipikirin, Shill yang tadi. Rio kebawa emosi.”

”Tapi kemaren dia juga bentak gue. Apa setiap hari dia kebawa emosi?”

”Itu kan salah lo juga, Shill.”

”Kok lo nyalahin gue? Oh jadi lo lebih milih sahabat lo dibanding gue, sepupu lo?”

”Ya ngga gitu juga, Shill.”

”Ah tau deh.” Shilla cemberut. Cakka memohon.

”Minta maaf sama Rio ya, please.”

”Yaudah deh.” Ungkap Shilla lembut. Cakka tersenyum dan mengajak Shilla kembali ke kelas 9c.

Ternyata anak kelas 9c sedang membicarakan kejadian tadi. Rio sedang memberitahukan keadaan sebenarnya yang lebih jelas kepada Angel, Gita, dan Olivia. Terasa hening sejenak ketika mereka melihat Cakka memasuki kelas, diikuti Shilla.

”Rio, ada yang mau minta maaf. Gue harap lo terima maaf dia.” Cakka mulai berbicara.

”Tergantung ya.”

”Masih mending, dia mau minta maaf.”

”Huh oke, oke. Gue dengerin permintaan maaf gebetan lo!”

”Gebetan? Siapa? Shilla? Yeee ngga mungkin lah, dia kan sepupu gue!”

”Apaaaa?!” Teriak Rio, Angel, Gita, dan Olivia.

”Kenapa sih? Udah ah kasian Shilla. Ayo Shill.”

”Rio, gue mau minta maaf. Gue ngga mau jadi Shilla yang suka ngejar-ngejar lo. Gue ngga mau jadi Shilla yang suka bilang kalau lo cowo gue. Dan gue... ngga mau kehilangan sahabat gue. Maaf.” Shilla tertunduk.

”Gue terima maaf lo.” Rio tersenyum dan menaikan wajah Shilla yang tertunduk. Shilla membalas senyum Rio.

”Angel, Gita, Oliv. Maaf ya.”

”It’s okey.” Ujar Gita. Bersamaan dengan senyuman Angel dan Olivia.

”Ohya gue harus minta maaf sama Zahra. Zahra mana ya?”

’Waduh, gue ngga lihat dia dari tadi deh.” Jawab Olivia.

”Hemm yaudah nanti aja deh.”

Di koridor dekat kelas 9b

”Jadi gitu, Cha, alasan kenapa nasi goreng yang gue bawa hari ini asin banget.” Ujar Ozy.

”Oh hahaha makanya jangan sok tau deh, main ngasih garam ke nasi goreng yang dalam proses masak sih.” Acha tertawa.

”Udah ah, Cha. Malu nih gue.”

”Maaf, Zy. Habis cerita lo kocak banget.”

”Hehehe. Ohya ngomong-ngomong kita ngapain sih lewat sini? Kalau ke kantin lewat sini sih jauh banget.”

”Lagi pengen lewat sini aja, Zy.”

”Oh yaudah lah. Eh itu Ka Alvin! Lho sama cewe cantik yang ngga gue kenal. Lo kenal, Cha?”

”Mana?” Acha memandang Alvin yang sedang berduaan dengan Zahra. Mesra. Menyenangkan. Tapi menyakitkan di hati Acha.

”Cha? Ada apa?” Ozy heran. Acha tiba-tiba saja berlari meninggalkan Ozy.

”Cha! Acha!’” Teriak Ozy. Alvin mendengar teriakan Ozy dan melihatnya berdiri di depan kelas 9b. Tapi Ia tak mau menghampiri Ozy.

*****

Sepulang sekolah, kelas 9c

”Zahra! Pulang bareng yuk!” Ajak Shilla.

”Ngapain? Bukannya lo udah ngga mau temenan sama gue, Shill?”

”Siapa bilang? Lo sahabat terbaik gue dan gue baru sadar itu. Maafin gue ya. Pegang janji gue kalau gue ngga bakal mengulangi kejadian ini.”

”Hemm....” Zahra berfikir sejenak.

”Kenapa?”

”Ngga, hehe. Oke deh.”

Di kelas 8b

”Acha. Mau pulang sama gue? Dari tadi lo murung terus. Ada apa sih?” Ozy duduk di atas meja Acha. Acha sedang membereskan barang-barangnya ke dalam tas.

”Ngga, Zy. Makasih.”

”Mau cerita? Gue pasti dengerin lo.”

”Ngga deh.”

”Gue tau lo paling ngga tahan kalau gue udah tawarin lo buat cerita kan. Hayooo.”

”Ah. Oke oke gue nyerah, Zy. Gue bete sama Ka Alvin.”

”Ka Alvin? Kenapa?”

”Dia mesra banget sama Ka Zahra. Dia aja ngga pernah segitu mesra nya sama Ka Ify.”

”Kok gitu? Jangan-jangan lo suka Ka Alvin yaaa?” Goda Ozy.

”Ih apaan sih, Zy. Gue cuma merasa bete aja kali.”

”Yakin?”

”Iya!”

”Oh yaudah. Ada lagi yang mau diceritain?”

”Engga. Gue mau pulang, udah ditungguin nyokap.” Acha meninggalkan Ozy sendirian.

”Udah ngedengerin cerita dia, sekarang malah ditinggal pergi. Huft.” Keluh Ozy sambil bergegas pergi meninggalkan ruang kelas 8b yang sudah kosong.

Sepulang sekolah, Ify pergi kerumah Sivia untuk mengerjakan PR fisika bersama.

Dirumah Sivia

”Fy. Sebenernya lo masih suka sama Alvin ngga sih?”

”Ngga tau deh. Mungkin rasa itu juga ngga bisa dibilang suka.”

”Kenapa?”

”Rasa suka gue cuma buat sahabat masa kecil gue.”

”Oh yang nama nya Rio itu ya?”

”Iyap. Sesuai dengan cincin ’RA’. Rio Alyssa.”

”Ouw so sweet. Haha.”

”Idih Via.”

”Ah udah ah, ayo PR fisika nya masih banyak nih.”

”Oh iya bener. Hampir lupa gue.”

Dirumah Shilla

’Rio sama Cakka lama banget deh.’ Keluh Shilla dalam hati. Ia sudah bosan menunggu Rio dan Cakka di ruang tamu rumahnya. Minuman juga sudah disiapkannya. Rio dan Cakka memang sudah disuruh kerumah Shilla sekarang. Memang dadakan sih. Baru 15 menit yang lalu Shilla menyuruh mereka datang.

Kilas Balik

-To : Cakka (sepupu)-

Ke rumah gue sekarang ajak Rio!!

-From : Cakka (sepupu)-

Wajib? Kalau ngga gue ngga mau dateng.

-To : Cakka (sepupu)-

Wajib lah. Ada yang mau gue omongin sama lo, sama Rio. Cepetan!

-From : Cakka (sepupu)-

Iya tunggu aja.

Kembali ke Shilla

”Shilla!” Suara Cakka membuat Shilla beranjak menuju pintu gerbang rumahnya, membukakan pintu untuk Cakka dan Rio. Cakka segera memarkirkan motornya.

”Ayo masuk.” Ajak Shilla. Cakka dan Rio memasuki rumah Shilla dan duduk di sofa, di ruang tamu Shilla.

”Ada perlu apa sih, Shill?” Tanya Rio heran.

”Bentar, gue mau minum dulu ya, Shill. Haus nih.” Cakka mengambil gelas berisi sirup jeruk yang ada di meja.

”Yaudah cepetan.”

”Hffttt.. udah. Ayo mulai.” Cakka mengisyaratkan.

”Gue mohon sama kalian, please banget baikan ya sama Alvin.”

”Baikan sama Alvin? Ogah deh. Dia udah bohong sama gue soal Ify!” Rio menolak.

”Alvin tuh sok jagoan banget, belain Acha waktu kita lagi gangguin Acha. Males banget deh baikan sama dia!” Cakka juga ikut menolak.

”Gue risih liat Rio jauh dari Alvin. Biasanya kalian kan selalu barengan. Dan gue juga ngga mau, Cak, lo jadi pengaruh buruk buat Rio.”

”What?! Gue jadi pengaruh buruk buat Rio? Maksud lo apa?” Cakka sedikit emosi.

”Cak. Lo nyadar ngga sih? Geng lo, termasuk Kiki, Patton itu dipandang apa sama anak-anak? Mereka pandang lo tuh anak-anak ngga bener! Dan semenjak Rio jadi sering sama kalian, mereka fikir kalian bawa pengaruh buruk buat Rio!”

”Cakka, Kiki, sama Patton baik kok. Lo jangan sok tau, Shill.” Bela Rio.

”Gue cuma mengutarakan apa yang gue denger dari anak-anak. Gue mau lo baikan sama Alvin. Sahabat baik lo, Yo. Gue mau Cakka jadi cowo yang lebih baik. Itu aja.”

Rio dan Cakka menunduk. Memikirkan perkataan Shilla yang peduli terhadap mereka.

”Gue harap kata-kata gue tadi ngga menyinggung kalian. Gue mau yang terbaik buat Rio dan sepupu gue. Kalian boleh balik sekarang kalau kalian mau, buat merenungi kata-kata gue. Makasih udah mau dateng dan dengerin gue.”


to be continued...

 

Arimbi's Story Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal